Kamis, 03 September 2015

Rumah Kedua


Zona Nyaman

Rasanya pergi dari rumah dan tidak tahu kapan akan kembali……

Mama melambaikan tangan dari pagar rumah. Aku memasuki taksi yang daritadi sudah standby. Aku merutuki diriku sendiri kenapa aku memilih melanjutkan kuliah di luar Jakarta? Sedangkan sisi diriku yang lain mengatakan bahwa, “Ini sudah menjadi keinginanmu sejak lama. Kenapa disesali sekarang? Bukankah jalan menuju kesuksesan tidak bisa didapatkan kalau hanya berada di zona nyaman?”

Air mata membasahi pipiku. Mungkin itu alasan mengapa aku menggunakan masker. Beruntunglah matahari sudah kembali istirahat, jadi linangan air mata itu tidak terlalu terlihat. “I love you, Nini” kata Mama. Aku hanya diam, takut jika mulutku terbuka sedikit saja air mataku yang sejak tadi kutahan akan merembes keluar dengan derasnya.

(Jujur saat aku mengetik ini, mataku berkaca-kaca)

Terbesit quotes dari buku 9 Summers 10 Autumns karangan Iwan Setyawan tentang Jakarta, “Aku mulai mencintainya, membencinya, dan mungkin akan terus begitu”. Tampaknya kalimat itu sangat sangat pas menggambarkan perasaanku tentang kota yang sudah menjadi tempat hidupku selama tiga tahun terakhir. Dimana aku mendapatkan banyak pelajaran berharga, kenangan indah, sampai teman-teman yang asyik. Ada Yin, ada Yang. Pengalaman tak mengenakkan juga tentunya selalu ada untuk menyeimbangkan.

Entah mengapa rasanya sangat berat berpisah. Berpisah dengan apa? Segalanya yang ada di Jakarta. Semuanya akan menjadi baru lagi. Aku harus beradaptasi dengan orang-orang baru, lingkungan baru, dan melangkahkan diri menuju jenjang studi yang lebih tinggi.

Sementara kereta api Taksaka Malam melaju kencang menuju stasiun Tugu Yogyakarta, ragaku mungkin disini, tapi jiwaku masih jauh tertinggal. Aku merasakan hampa. Masih merutuki diri, menyesali keputusan yang kemarin-kemarin kubuat dengan percaya diri. Jika kau anak tunggal, mungkin kau akan merasakan hal yang sama sepertiku. Kita akan tinggal di kota yang berbeda dengan kedua orang tua kita, lalu siapa yang akan merawat mereka?

Kenapa aku disini?

Penyesalanku tidak berhenti disitu. Rasa sesal karena tidak bisa mendapatkan satupun jatah kursi fakultas kedokteran di universitas negeri membuatku semakin memandang sebelah mata tentang kapabilitasku. Hal bodoh yang seharusnya tidak aku lakukan. Egoku mulai menguasaiku, kenapa aku harus berkuliah disini? Tamparan keras, aku menyesal kenapa aku tidak bersyukur sama sekali tentang hal ini. Aku hanya berpikir akan sangat merepotkan orang tua jika aku kuliah di swasta walaupun mama dan papa berkata sebaliknya. Setidaknya, hidupku masih berlanjut. Dan aku tidak boleh menyerah.

Hari-hari Pertama sebagai Anak Kos

Inilah saat dimana kau harus mengatur keuanganmu sendiri jika kau tidak ingin makan nasi plus abon cabe di akhir bulan. Hahaha. Untunglah harga-harga di Jogja cukup berpihak kepadaku. Tentunya tidak semahal di Jakarta.

Pagi pertamaku sebagai anak kos diisi dengan memasukkan barang-barang ke dalam laci meja belajar dan menata baju ke dalam lemari. Tak lupa mulai membeli peralatan-peralatan tambahan seperti tempat sampah, sikat, ember, dan lain-lain. Membeli snack juga agenda wajib mengingat aku adalah tipe orang yang gampang lapar tapi mager untuk mencari makanan.

Untunglah aku cepat akrab dengan teman-teman satu kosku. Hanya ada empat kamar disini. Dita, my hero, entah…tanpa perannya mungkin aku ngga bisa masuk disini. Intan, anak Palembang yang memilih jurusan teknik kimia. Dan terakhir Suci, anak Pekanbaru yang memilih jurusan Psikologi. Kami cukup sering bergossip bareng di malam hari. Pernah suatu malam terdengar bunyi ‘tit tit tit tit’. “Listriknya mau habis pang” kata Dita menenangkan. “Coba kasih tau masmu, Dit” aku mencoba mencari solusi. “Ngeri juga, besok ospek. Malamnya mati lampu” kata Intan. Akhirnya kita berempat mengirit listrik dengan cara tidak menyalakan televisi.

Menantu Idaman

AORTA adalah istilah ospek fakultas kedokteran di UII yang merupakan singkatan dari Ajang Orientasi dan Ta’aruf (cmiiw). Acara ini dilangsungkan selama dua hari, 1-2 September 2015. Sebelumnya, saat kuliah perdana sudah diumumkan tentang atribut-atribut yang harus dibawa saat AORTA. Pada waktu itu pula kami dibagi menjadi beberapa kelompok, kurang lebih satu kelompok terdiri dari dua belas orang. Oh ya! Aku harus membiasakan diri menyebut ‘kelompok’ dengan ‘jamaah’

Ucapan puji syukur terlontar secara otomatis dari mulutku karena aku satu jamaah dengan Dita. Kami segera keluar dan menyatu bersama teman-teman baru satu jamaah. Masing-masing jamaah mempunyai kakak tingkat pembimbing yang disebut sebagai wali jamaah. Jamaah kami diberi nama Carotis, pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah dari leher ke kepala. Hehehe. Dan wali jamaah kami adalah mas Zulfikar, yang biasa disapa mas Zul.

Kami memulai membuat atribut ospek, memotong-motong karton untuk bahan tas, membuat kepangan dari tali raffia, membeli barang-barang baksos, dan masih banyak lagi. Hari demi hari kami semakin dekat (CIEEEEE –khas Carotis banget--). Hingga tibalah dimana keesokan harinya kami akan mengikuti AORTA. “Jangan lupa bikin yel-yel” kata mas Zul mengingatkan. Dan beginilah yel-yel kami

Dengan kekuatan cinta, kami datang untuk menyembuhkanmu

Carotis takkan lelah karena paling oke
Ada Vian, Faried, Adit juga Ramdan
Ceweknya ada Gita, Dita, Nindi, Fany
Aan, Angga, Annisa, dan juga Anggita
Jamaah Carotis waljamnya itu mas Zul, yang pake kacamata
Jangan Cuma nonton doang, yang lain ditendang

Kami carotis… MENANTU IDAMAN!

Lirik yang kebanyakan dikarang oleh Ramdan akhirnya resmi menjadi yel-yel kami (yang mungkin sedikit alay)

                               

AORTA Hari Pertama

Kami berangkat bersama-sama menuju boulevard UII. Seperti ospek universitas, kami dibariskan untuk melewati tiga pos. “Siapa yang merasa sepatunya tidak hitam full maju ke depan!” perintah kakak KK. Kulirikkan mataku ke bawah memandang sepatuku. “Kamu! Maju ke depan!” Nasib sial memang sedang membuntutiku hari itu. Aku maju ke depan dengan pasrah, tahu kenapa? Karena di sepatuku terdapat bagian sedikit putih yang ku isolasi hitam. Lalu apa masalahnya? Isolasinya lepas. “SIAL!” Pekikku dalam hati.
“Kenapa sepatunya?”
“Ini kak…isolasinya lepas…” aku menunduk
“Kamu ngerasa salah nggak?”
“Iya kak…”
“Yakin?”
Aku mengangguk. Kakak tersebut kemudian membalik cocardku dan langsung memberi centangan di pelanggaran sedang. “HAAAH MAMPUS! 20 TANDA TANGAN” aku meratapi kesialanku di pos pertama.

Berlanjut di pos kedua, tempat pemeriksaan atribut. “Warna tali tasnya ada berapa dek?” hening sesaat. Kakak itu mengulangi pertanyaannya lagi. “Empat kaak” kami menjawab takut-takut. “Berapa?!” “Empat kak” dan belakangan diketahui kalau talinya berjumlah tiga. Baiklah, pelanggaran keduaku hari itu. Tanda tangan kakak panitia yang harus kudapat berubah menjadi 40. Ditambah lagi membuat essay tentang hipertensi sebanyak empat halaman folio, ditulis tangan!

Acara AORTA pun dimulai. Pembukaan resmi oleh ibu dekan. Kami dibagikan buku panduan acara AORTA. Oh iya! Tempat berkumpul kami adalah di depan lab FK. Hari itu berjalan dengan damai dan sedikit tegang. Setelah lengkap, kami berkumpul ke GKU untuk sholat dhuha dan mengikuti berbagai seminar. Tentu saja kemanfaatkan setiap waktu luang untuk mencari tanda tangan kakak-kakak panitia.

Siangnya, kami melaksanakan Tour de Medica mengelilingi bangunan FK UII dari lantai satu sampai empat. Ramdan sibuk dengan note kecilnya yang dia gunakan untuk mencatat setiap ruangan yang ada di gedung ini.  Sementara Mas Zul memberi pengarahan tentang ruangan-ruangan, semacam menjadi tour guide.

Acara hari itu berakhir menjelang maghrib. Kami mendapat tugas untuk esok, yaitu membuat essay tentang anatomi dan fisiologi salah satu orang penting tubuh sebanyak dua halaman, membuat denah fakultas, dan membeli beberapa bahan lagi. Dan tentunya, mengganti jumlah tali tas kami dari empat menjadi tiga.

Dengan langkah gontai karena sudah kelelahan kami berjalan menuju kosku dan Dita yang merupakan basecamp kami. Adzan maghrib mulai berkumandang. Singkat cerita, kami mulai memperbaiki atribut-atribut yang salah. Sedangkan para ikhwan membeli bahan keperluan untuk hari kedua. “SEMANGAT!” kataku kepada mereka. Kami semua lelah, termasuk aku. Dan kata-kata itu menjadi sangat basi untuk diucapkan.

Hari menjelang malam dan atribut pun perlahan mulai selesai. Sementara Ramdan masih sibuk mengeprint  tulisan di atribut kami yang salah. Tinggallah aku, Dita, Faried, Vian, dan Ramdan. Ketiga ikhwan Carotis ini menggambar denah fakultas dengan bersemangat (read: loyo). Sementara aku dan Dita nyicil mengerjakan essay. Mereka baru menyelesaikannya pukul 23:15, essay hipertensiku masih 3 halaman dan otakku sudah mentok tidak tahu mau menulis apa lagi.

“Aku mau tidur dulu, Dit. Nanti jam 3 bangun lagi” kataku pada Dita. Kami berpisah menuju kamar masing-masing. Aku meletakkan essay hipertensiku di atas meja, memandanginya sesaat dan melanjutkannya sebentar. Tak terasa jam mulai menunjukkan pukul 00:15, “Aku harus tidur” pikirku. 15 menit kemudian aku terlelap.

Alarm handphone sudah terprogram pukul 3 pagi. Nyatanya aku malah terbangun dengan sendirinya pukul setengah 3. Aku berkedip sesaat. Ingin tidur lagi. Dilema. Aku belum menyelesaikan essay hipertensiku, apalagi tugas essay anatomi dan fisiologi. Syukurlah, tepat pukul 4 essayku selesai. Inilah rekor pertamaku, tidur hanya dua jam dalam sehari.

AORTA Hari Kedua

Saking lelahnya, aku meminta doa teman-teman alchemist di grup supaya tidak terkena pelanggaran lagi hari ini. Alhamdulillah doa mereka terkabul. Aku aman. Hari kedua merupakan klimaks dari seluruh rangkaian acara ini.

Sampailah saat dimana kami akan mengunjungi “dosen besar” kami. Dari GKU, team Carotis menuju ke depan lab FK. Disana sudah ada salah satu kakak panitia yang menyambut kami. Raut wajahnya seperti dipaksakan rileks, mungkin karena melihat kami yang terlalu tegang karena memang kami sudah tahu akan disuruh apa setelah ini. “Yuk yel-yel dulu, ngga usah keras-keras ya…”

Aku bisa merasakan ketegangan diantara kami semuanya. Setelah itu kami diminta untuk membagi dua, per enam orang naik terlebih dahulu. Aku bersama dengan Vian, Faried, Anggi, Nindi. Ya, karena kebetulan Aan sedang sakit. Aku menaiki undakan menuju lantai dua yang sudah disambut oleh kakak panitia yang lain. Slayer sudah menutupi hidungku, karena pengap aku menurunkannya. “Assalamualaikum, kak” sapa kami. “Waalaikumsalam” raut wajah kakak yang satu ini juga tidak jauh berbeda dengan kakak sebelumnya.

“Kalian nyium bau-bau sesuatu gitu ngga?”
Hening.
“Bau mencit” lanjut kakaknya.
“Saya kok engga cium ya kak…” aku menanggapi kakaknya.
Something is wrong with your nose, kamu pilek?”
“Engga, kak”
“Yaudah, sama. Saya juga ngga cium”
Aku terdiam.

Kami diberi kode untuk naik ke lantai tiga. Disana kami juga disambut oleh salah satu kakak panitia.
“Kak, kita mau ngapain sih kak?” tanya Nindi. Kakak itu hanya tersenyum dan meminta kita untuk mengikuti saja apa yang akan terjadi. Tak lama kemudian kami dikomando untuk naik ke lantai empat. Kami dibariskan di depan pintu ruangan yang dari luar terlihat gelap.

“Bawa slayer semua kan dek?” tanya kakaknya. Kami mengangguk.
“Sekarang kalian lipat slayernya kayak gini, terus tutupin ke mata. Jangan tebel-tebel nanti kalian ngga bisa nafas”

Kalian tahu apa yang ada di dalam pikiranku? Awalnya kupikir kami diminta membawa slayer untuk menutupi hidung kami. Ternyata mata!

Ya Allah, aku pasrah apapun yang terjadi padaku tolong aku dimudahkan.

Kakak tersebut membantuku mengikatkan slayer. Aku merasakan dia memegang pundakku dan mengistruksikan kepada yang lain untuk berpegang ke pundak temannya. Aku tidak berpegang pada pundak siapapun?!?! Menandakan kalau aku adalah yang paling depan. Aku hanya menggandeng tangan kakaknya. “Kak saya boleh tukar ngga, saya ngga mau di depan..” suaraku mulai bergetar. “Kenapa memang? Ngga papa kok” kata kakak itu lembut menenangkanku. Kami melangkah dengan mata tertutup slayer. Hawa dingin kurasakan. Aku mulai terisak. “Kamu kenapa?” aku tetap terisak sedikit kencang. “Ngga papa kok, ngga papa” kakak tersebut seolah berubah menjadi seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya.

“Kak, kita mau dibawa kemana?” Nindi yang ada di belakangku bertanya. Kakak itu diam. “Don’t let go, kak” kataku menggenggam erat pergelangan tangannya. Aku merasakan kami semua dipisahkan dan diserahkan ke kakak-kakak disitu yang aku tidak tahu berapa. Walaupun dalam keadaan tidak bisa melihat apapun, aku bisa merasakan kakak itu membukan gorden atau apalah.

“Dek, saya tempelkan ini di pundak kiri kamu. Jangan sampai hilang ya. Kamu sebentar lagi ketemu dosen kamu, hormatin ya” aku terdiam. Tangisanku berhenti. Entah apa sebenarnya yang menhentikannya. Kakak itu memegang tangan kiriku dan meletakkannya diatas “dosen”ku. Seketika, pikiranku berubah. Kalau aku tetap menangis, aku tidak menghargai “dosen”ku sama sekali.

“Nanti cari jarum ya, dek” katanya. Kemudian meninggalkanku yang diisyaratkan dengan angin tubuhnya yang berlalu.

“hitungan ketiga, buka slayer kalian!”

“oke, aku tau saat ini pasti akan datang juga. Terkadang ada hal yang tidak bisa kita hindari dan mau tak mau harus dihadapi” aku memberanikan diri dalam hati.

“satu, dua, tiga, BUKA SLAYERNYA!” Aku membuka slayerku dengan tangan kanan, karena tangan kiriku masih menyentuh sang dosen. Aku menarik napas perlahan dan teriam selama beberapa detik. Memandangi sekeliling dengan penerangan remang-remang. Dihadapanku sudah terbari sang dosen. Aku mengalihkan pandangan ke tangan kiriku yang ternyata menyetuh paru-parunya.

Tak lama aku kembali berfokus untuk mencari jarum yang dimaksud. Aku meraba dan berusaha merasakannya karena aku tidak bisa melihat dengan jelas. Dari seberang terdengar teriakan, “Kak saya sudah dapat!” suara Vian membuatku panik. Aku mencoba mencarinya lagi bahkan sampai mengangkat paru-paru tersebut.

“Kak, saya dapat!” suara perempuan yang kuasumsikan Nindi.

“KELUAR DEK!”

Deg. Aku makin panik karena belum menemukan apapun. Instingku menyuruhku berkata, “KAK SAYA NGGA DAPAT” sedetik kemudian, kakak itu membuka gorden hitam dan menyuruhku keluar. Aku lega ketika bisa melihat cahaya terang lagi. sisa-sisa air mata masih menempel di pelupuk mataku.

“Turun ya dek”
“Iya, kak”

Aku menuruni tangga dari lantai empat dengan gesit menyadari bahwa teman-temanku yang lain tidak ada. “Assalamualaikum, kak” sapaku di setiap tangga yang kuturuni.

 Aku dan Anggi yang pertama kali sampai di tempat berkumpul. Mas Zul sudah menanti dengan tongkat bertuliskan “CAROTIS” yang setia dibawanya. Aku maju mendekatinya ketika kutoleh ke belakang untuk mencari Anggi dan hendak menyusulnya, “Fany, Fany” panggil Mas Zul. “Sini sini, cuci tangan dulu” aku manut.

“Gimana tadi?”

“Dia dapet mas, aku engga” jawabku.

                                

Penutupan acara dilaksanakan pukul 5 sore oleh bapak wakil dekan. Setelah itu kami semua sholat maghrib dilanjutkan pemberian award kepada maba&miba terbaik dan panitia terbaik dari berbagai kategori.

“Maba terbaik adalah……”
“Ramdan dari Carotis!” wah wah. Aku benar-benar tidak menyangka Ramdan bisa menang. Kami semua bertepuk riuh menyatakan kebanggaan kami. “Pak Ustad” akhirnya mendapatkan award itu! Walaupun jamaah kami tidak terpilih menjadi jamaah terbaik, namun Ramdan berhasil membawa nama Carotis.

Panitia-panitia mendapat award masing-masing. Dan terakhir adalah dalam kategori “terdisiplin”

“SIAPAAAA?” kakak MC ingin mendengar jawaban kami.

“KK!!!!” Kami kompak menjawab.

“Dan kategori terdisiplin AORTA 2015 diberikan kepada…….”
“KK!”

Wooo! Disambut dengan tepuk tangan meriah. Saat kakak-kakak dari departemen KK maju ke depan semua hening. Suasana menjadi sama persis seperti saat tiba-tiba kakak-kakak KK memasuki auditorium dan membuat hati kami berdebar-debar (CIEEEE (?))

Mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu satu per satu, kemudian memohon maaf kepada kami semua. Salah satu kakak tersebut meminta dua maba yang dia sebut namanya untuk maju ke panggung.

Formasi berubah kembali. Kedua maba tersebut kini membelakangi kami semua untuk menghadap kakak-kakak KK, “SAYA MAU KALIAN ISTIGHFAR 10 KALI” perintah salah satu maba itu. Kakak-kakak KK itu menunduk dan mulai beristighfar, ekspresinya sama seperti saat kami ada di posisinya beberapa waktu lalu. Terdengar tepuk tangan meriah yang menandakan kami puas.

“NGGAK MAU? SAYA TAMBAH DUA KALI LIPAT JADI DUA PULUH KALI” maba tersebut melanjutkan. Tepuk tangan makin membahana. Semua mengganas seakan ingin melampiaskan (?)

Selesai. Kakak-kakak KK meminta maaf kepada kami semua, suasana kembali hangat. Dari awal aku selalu tahu kalau mereka semua sebenarnya kakak-kakak yang baik. Mereka mendidik kami untuk disiplin dan tidak melewatkan satu detil pun karena itu sangat penting.

Selamat menempuh hidup baru, teman-teman sejawat! =)) 

                                 

Senin, 03 Agustus 2015

Film-Film Kartun Masa Kecil

 Mulai beranjak dewasa membuatku kangen sama masa kecil. Ya, semuanya! Termasuk beberapa film-film kartun kesukaanku dulu. Ibaratnya ini adalah “drama korea”-ku waktu kecil karena bener-bener kecanduan.

1.    Chibi Maruko-Chan
Masih inget kan sama kartun lawas yang satu ini? Penggambaran tokoh dan latar yang sederhana nggak mengurangi kekocakan tingkah Maruko. Sampai sekarang aku masih hafal beberapa bait OST kartun ini.

Jalan panjang menuju langit biru
Tiba-tiba kulihat seorang anak
Yang menemukan harta karun di dalam sana
Alangkah senang dan hati gembira
Wangi angin padang rumput di sore hari
Sampaikaaan salaam gembiraaaa
Sekarang ganti baju agar menarik hati
Ayo kita mencari temaaan

Satu episode Maruko yang masih kuingat adalah saat dia potong rambut. Kebetulan yang memotong adalah ibunya sendiri. Berbekal kecekatan ala ibu rumah tangga, ibunya memakaikan mangkok ke kepala Maruko agar mudah untuk menyesuaikan bentuknya. TARA! Rambut baru Maruko jadi dan dia siap berangkat ke sekolah. Ternyata dia malah diolok-olok di sekolah karena poninya mirip batok kelapa. Dengan naluri anak kecilnya dia kemudian membela diri. Beberapa teman setianya (yang aku lupa namanya) berusaha menghibur Maruko yang sedang sedih dengan mengatakan hal-hal seperti, “Kau harusnya bangga, Maruko karena ini adalah hasil potongan ibumu sendiri” dan ternyata kalimat ini berhasil. Maruko akhirnya cuek dengan komen-komen pedas temannya dan menyesal telah marah-marah karena diledek. Dia membayangkan di rumah ibunya sedang menyesali kesalahannya karena memotong poni yang mirip batok kelapa. Maruko bergegas pulang dan ingin menghibur ibunya. Dia menegtuk pintu, “aku pulang!” seru Maruko. Dia mencari ibunya yang ternyata sedang menonton TV dan tertawa terbahak-bahak. Semua diluar ekspektasi. Ibunya tidak menyesal sama sekali.

                                   


2.    Hachi
“Mama… mama… dimana kau berada? Mama… mama… suatu saat pasti bertemu.” Yikes! Kisah seekor lebah madu yang mencari mamanya, sang ratu lebah madu. Konon Hachi dan Mama dipisahkan karena saat ia kecil terjadi penyerangan di kerajaan. Ratu lebah madu yang juga ibu Hachi ditawan oleh musuh. Sementara Hachi dirawat oleh orang kepercayaan ibunya. Hachi beranjak dewasa dan kemudian memulai petualangan mencari Mamanya.

Bagian menyebalkan dari film kartun ini adalah saat mamanya ada di dekatnya tapi dia ngga nyadar. Film ini dulu ditayangkan di TV 7 (Trans 7 jaman dulu) lalu diputar ulang di Space Toon. Aku sampai sekarang juga ngga tau, apakah Hachi udah ketemu sama Mamanya?

                                       

3.    Avatar The Legend Of Aang
Cerita Aang, Katara, dan Saka ngga akan pernah tergantikan! Epik banget film kartun satu ini. Bercerita tetang Aang, seorang bocah yang beku di dalam es selama seratus tahun dan ditakdirkan jadi Avatar. Dia adalah keturunan terakhir dari pengembara udara yang kebanyakan adalah biksu yang mendiami kuil-kuil. Para pengembara udara dibantai oleh Negara Api agar tidak ada Avatar selanjutnya. Sejak diberi tahu oleh gurunya kalau dia adalah Avatar, dia kemudian kabur bersama bison terbang miliknya, Appa. Petualangannya untuk jadi Avatar hebat banyak menemui tantangan dan pengalaman yang tak terlupakan. Apalagi dia selalu diburu oleh Rivalnya, Pangeran Zuko dari Negara Api yang dijanjikan akan diberi kehormatannya lagi kalau bisa menangkap Avatar. Di ujung cerita, Pangeran Zuko sadar kalau dia seharusnya membantu Aang melawan ayahnya, Raja Api Ozai.

Aku juga sempat beli komik Aang sampai seri ke delapan. Setelah itu udahan, males hahaha. Aku sempat berandai-andai bisa mengendalikan salah satu elemen antara air, tanah, api, atau udara. Dan jika aku bisa, aku akan pilih air J

                               

4.    Tokyo Mew Mew
Tokyo Mew Mew beranggotakan 5 gadis cantik dari Tokyo yang disisipi gen hewan yang terancam punah oleh Shirogane, pemilik sebuah restoran yang sebenarnya dia gunakan untuk markas. Ichigo Momomiya adalah anggota pertama, dia disisipi gen kucing. Warnananya pink. Konon, dia naksir berat sama teman sekolahnya yakni Aoyama. Di akhir terungkap bahwa Aoyama adalah bos musuh aliennya yang selama ini menyerang bumi bernama Deep Blue. (WUIH!)

Anggota kedua adalah gadis kaya bernama Minto Aizawa. Dia disisipi gen burung, warnanya biru. Dia adalah penari balet yang baik. Awalnya Minto sangat sombong namun lama kelamaan dia bisa lunak dan cepat akrab dengan yang lain. Anggota ketiga adalah Retasu Midorikawa, dia adalah gadis lugu pemalu yang disisipi gen ikan duyung. Warnanya hijau. Anggota keempat adalah Purin Fong yang disisipi gen monyet, warnanya kuning. Dan anggota terakhir adalah seorang artis terkenal, Zakuro Fujiwara. Dia adalah yang paling tua diantara semua anggota. Zakuro disisipi gen serigala abu-abu, warnanya ungu.

Aku juga ngoleksi komiknya ada 7 seri. Di komik, akhir ceritanya Ichigo menikah sama Aoyama. Cute sekali <3

                       

5.    Web Diver
Kartun di Space Toon yang bercerita tetang Robot dan ‘Pengendalinya’. Aku sudah lupa semua karakternya, yang kuingat cuma tokoh utamanya yaitu Kento dan robotnya, Gladion. Film kartun ini sukses bikin aku nangis bombay karena ending yang mengharukan. Di sebuah pertempuran, Gladion harus mati dan dia mengembalikan Kento ke bumi. (Aku agak lupa, mereka bertarung di luar angkasa gitu). Esok pagi saat ia ke sekolah, kento sama sekali tidak kelihatan sedih. Jauh berbeda seperti saat dia dipulangkan paksa oleh Gladion. Teman-temannya mulai heran, setelah dipancing akhirnya Kento nangis abis-abisan karena kangen sama Gladion (brb ambil tissue, baper). Teringat temannya yang bilang, “Sudah, Kento. Jangan berpura-pura” lalu Kento nangis sejadi-jadinya. Tapi seingatku, Gladion kembali kok.

                                       

6.    F-Zero
F-Zero bercerita tentang balapan mobil yang dicampur kekuatan gitu. Tokoh utamanya namanya Ryu dengan musuhnya Zoda. Ternyata Zoda merebut kekasih Ryu, Haruka ya namanya? (CMIIW) Haruka dibuat lupa ingatan sehingga ia harus melawan Ryu saat balapan. Ryu yang melihatnya jadi baper (?) dia berusaha keras mengambil kembali Haruka dari Zoda. Yak sisanya lupa -_- ceritanya cukup bisa bikin baper. Atau mungkin akunya yang baperan sejak kecil. Ngga! Aku cuma gampang terharu aja :’)

                        

7.    Naruto
Sekuel yang sampe sekarang belum kelar-kelar. Ngga usah di sinopsis pasti udah pada tau ceritanya kan? Pertama kali tau Naruto dari kelas 5 SD, temen-temen cowok suka ngomongin dan di tempat les, 2 temen cewekku juga suka ngomongin. “Sakura” “Sasuke” aku masih ngga nyambung, lama-lama mulai nonton. Kebetulan 2 temen lesku ini suka sama Temari dan Hinata. Okelah kucoba nonton Naruto yang waktu itu masih bocah usil yang naksir sama Sakura. Eh? Tapi tokoh kesukaanku di film ini bukan Sasuke si cool atau Gaara yang berwibawa itu. Tapi……Pak Hatake Kakashi!!!! He he he. Entah kenapa mata sayunya yang males itu menarik. Menurutku dia ideal karena tinggi dan kurus. I like that kind of guy! Selain Kakashi aku juga suka sama bapaknya Naruto, Minato Namikaze. Hm J bapaknya Naruto cakep dan kalem, ibunya cantik. Kenpa Narutonya bisa petakilan gitu?! L

Seiring berakhirnya Naruto, aku masih berharap kalau Kakashi punya pacar dan kemudian menikah. (HA HA!) dan kedua orang tua Naruto masih hidup cos they’re sweetest couple ever!

                      

8.    Hamtaro
Berkisah tentang hamster-hamster lucu menggemaskan yang berpetualang.

Hamtaro tidur dimana saja
Apa yang paling dia senangi?
Biji bunga matahari!

Lalu gerombolan hamster lucu lari lewat. Aku ngga ingat salah satu ceritanya. Mianhae L

                          

9.    Let’s Go!
Yap! Karena sudah malam dan saya sudah mulai mengantuk, ini adalah film kartun terakhir yang akan kuceritakan. Mungkin sebagian masih inget? Film ini yang bikin kita heboh sama tamiya. Dulu aku juga sempat punya beberapa. Ah! Waktu kecil udah ga inget gender mau cowok atau cewek semua main tamiya hahaha. Jujur aku sudah lupa sama nama-nama tokohnya! But I like this one.

                                      

Sebenernya masih banyak kartun-kartun yang menghiasi masa kecilku dan kamu kamu semua. Tapi itu adalah favoritku!


Mengenang masa kecil itu seperti ada berusaha menjangkau kertas yang tertiup angin kencang. Sekeras apapun kita mencoba, ga akan bisa ditangkap lagi. (Apa-apaan ini?! Hahaha) aku rindu masa kecilku dan semua film-film itu. 


Selamat bernostalgia.
Pic Source: Google and Tumblr

Kamis, 09 Juli 2015

Tanpa Judul

9 Juli 2015 menjadi hari penting bagi camaba Indonesia. Sejak pagi artikel-artikel penyemangat sudah bertebaran, semakin menjadi pertanda buatku. Flashback saat pelaksanaan ujian SBMPTN dulu, aku jujur merasa kesulitan karena soalnya memang lebih sulit daripada soal TO. Disitu mau ngga mau timbul rasa pesimis, iso opo ora yo? Kuncine ikhlas, le (iklan di metro tv). Yang kupelajari adalah saat kita menempuh ujian apapun kuncinya adalah ikhlas dengan apapun keputusan Sang Penulis Skenario drama hidup kita. Tawakal juga penting karena kadang disaat kita udah “mbuh” malah dikasih sama Allah.

Kemudian sekitar pukul 17 lewat 15 kubuka website pengumuman SBMPTN yang ternyata down, aku mencoba beralih ke website mirror seperti ITB, UI, UGM, dan ternyata bisanya di UNDIP. Polosnya aku sempat ngga mudeng dengan hasil yang kubaca, kucoba log in beberapa kali padahal tinggal di scroll sedikit ke bawah di laman itu. Bata merah lagi, bro, sis. Aku ikhlas =)) Kebal aku sudah sama virus bata merah ini karena sudah dilindungi antibodi “FK dimana-mana sama”

Kondisi di grup kelas rame, saling tanya satu sama lain. “Gimana? Keterima dimana?” pertanyaan ini membuatku muak sejak pengumuman SNMPTN yang juga bata merah. Day D I was okay, tomorrow? Kenapa baru nyess besoknya? Telat. Teringat waktu Westlife bubar dulu pas Day D juga biasa aja, esoknya nangis kejer. “Aku ikhlas, Ya Allah. Aku ikhlaaasss, sungguh!” tegasku lagi. Ditambah, “Aku rapopo, Ya Allah.” Lama-lama menjadi, “Aku rakuat, Ya Allah.” Hahaha canda ah~^^

Di grup anak-anak FK UII juga rame, “UII siap menanti” dan “Ada UII yang mau menerima aku apa adanya” membuatku terhibur, kocak juga sih anak-anak ini. Adaaa aja caranya menegarkan diri.

Nggak bisa terelakkan kalau ada perasaan iri saat temen lain dapat PTN dan kita belum diterima. Disitu juga kadang kita merasa hidup ngga adil. No! Hidup selalu adil menurutku. Kita hanya tahu apa yang kita mau dan terkadang memaksa Allah mengabulkan, padahal Allah menjawab do’a kita dengan tiga cara:
1.    Yes
2.    No
3.    I got better
Sedangkan yang kita sering presepsikan adalah kalau nggak Yes ya No. Sis, bro, ini hidup, bukan audisi nyanyi di TV. “Aku Yes” atau “Aku No” itu kan manusia, Allah beda, masih punya “I got better”.

Yang membuatku sangaaat bersyukur hingga detik ini adalah aku masih dapat jatah bangku kuliah kedokteran tahun ini. Banyak orang mencoba masuk ke FK UII bahkan dari tahun lalu dan baru diterima tahun ini setelah mencoba berkali-kali, sedangkan aku dimudahkan sangat oleh Allah hanya mencoba sekali dan tepat di gelombang terakhir. Fabi ayyi alaa irabbikuma tukadzibaan? (tolong koreksi kalau salah penulisan ayatnya) Nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?

Bro, sis, life is not always the way we planned but exactly the way Allah’s plan. And it’s always better. Hidup itu seperti lari marathon, beberapa orang menang di 100 meter pertama. Tapi yang penting adalah orang-orang yang menang karena mencapai garis finish terlebih dahulu. I’m not gonna say, “Tetap semangat ya!” karena itu basi. Basi. Basi. Basi. Dan tidak membangkitkan semangat sama sekali, malah cenderung mendownkan. Lebih baik, “Sudah hantam aja, yang bisa lakuin, lakuin. Tuhanmu lebih besar daripada masalahmu. Turn to Allah!”

Kalau gagal gini jadi sok bijak wkwkwk. Nggak papa kan sekalian memotivasi diri?

Satu hal yang harus kamu kamu ingat, bro, sis. Hidupmu ngga berhenti kalau kamu nggak diterima PTN. Kompetisi itu biasa. Menang baru luar biasa! (?) tapi bagaimana kita bangkit saat terpuruk itulah yang lebih luaaarr biasah! “Sesuatu!” kata teh Syahrini. Seribu jalan menuju Roma, kenapa Roma ya? Kenapa bukan London atau Jakarta? Oke, kita ganti. Seribu jalan menuju hatimu. Lah? Maaf saya sudah move on.

Sebenarnya yang bikin aku kecewa karena gagal SBMPTN adalah karena aku belum bisa membanggakan mama dan papa. Aku baik-baik aja, tapi…? Sebagai anak, pernah ngga sih terpikir bahwa ortu sudah memberi kita banyak hal baik secara materiel ataupun lainnya. Bagaimana kita membalasnya?

Eak kembali galau.

Bro-bro, sis-sis, mulai sekarang tanamkan dalam-dalam di lubuk hatimu bahwa suatu saat kamu akan membuat mereka bangga. Segera inshaAllah. Pacu prestasimu di berbagai bidang yang kamu mampu. InshaAllah akan Allah bantu.

Sebagai penutup, ada quotes dari Ustadz Yusuf Mansur
Fokuslah pada apa yang kita dapatkan dan kita punya. Perbaiki diri, kurangi melihat lebihnya orang lain. Suatu hari kamu akan tau betapa Allah sayang sama kamu dengan caranya yang luar biasa menjaga kamu.

KEEP CALM AND STAY COOL!

Minggu, 05 Juli 2015

Seminar Inspirasi: SAY NO TO DRUGS!

Assalamualaikum.

Kali ini aku akan berbagi cerita tentang seminar yang kuikuti hari Minggu, 5 Juli 2015 kemarin. Seminar ini berlangsung di kantor mama selama kurang lebih 4 jam dan dibagi 2 sesi. Sesi pertama bertajuk “Say No To Drugs” yang dibawakan oleh dokter Aisah Dahlan. Sedangkan sesi kedua bertajuk “Menabung Energi Positif” yang dibawakan oleh pak Jamil Azzaini.

[WARNING: LONG POST] !!!

Sebelumnya beberapa dari kita mungkin sudah sering mendengar slogan-slogan “Say No To Drugs”. Entah di buku tulis kita bagian bawah atau dikampanye-kampanye anti narkoba. Sebelumnya aku sendiri pernah beberapa kali mengikuti seminar tentang narkoba, tapi seminar kali ini patut diacungi jempol. Loh kenapa? Yup! Seminar-seminar sebelumnya rata-rata hanya berupa slide tetang bahaya narkoba, gejala, dan penanganan yang hanya sekedar hitam diatas putih. Jadi, habis seminar lewat sudah ilmunya. Apasih yang pertama kali terbayang saat kita mendengar kata narkoba? Bahaya? Mengerikan? Tapi pernah ngga kita lihat secara nyara orang yang benar-benar kecanduan narkoba? Ternyata lebih mengerikan dari yang aku bayangkan. Selama ini aku menganggap narkoba ya narkoba; bahaya, bikin kecanduan, nanti ujung-ujungnya kalau ngga direhab ya ditangkap polisi. Nah buat kalian yang berpikiran seperti itu, lebih baik simak paragraf selanjutnya karena inshaAllah ceritanya menarik.

Sebelum seminar dimulai, dilantunkan beberapa lagu rohani oleh grup orang-orang mantan pecandu narkoba yang dibawakan oleh 8 orang, 6 laki-laki dan 2 perempuan. 



Bu dokter Aisah pun memulai seminar dengan memperkenalkan dirinya. “Ah drugs again, it’s gonna be boring” pikirku diawal sesi. No! setelah selesai memperkenalkan diri, bu Aisah memulai dengan topik pada umumnya yang dibahas kala seminar narkoba; jenis, bahaya, persentase penduduk Indonesia yang terjerumus, dll. Di akhir pembahasan topik umum ini diberikan satu tips bagaimana menjaga keluarga kita agar tidak terkena narkoba? Cukup simple, “aman dan nyaman”. Maksudnya? Buatlah rumah, sekolah, atau kantor aman dan nyaman. Mungkin kalau aman relatif sudah terlaksana. Tapi nyaman belum tentu.

Bagaimana membuat suasana nyaman? Bu Aisah menghadirkan materi tentang psikologi, perbedaan laki-laki dan perempuan. Sebenarnya, perempuan dan laki-laki punya kesamaan, yaitu sama-sama spesies manusia (ha ha ha) dan memang hanya itu persamaannya. Berikut ini beberapa fakta tentang pria dan wanita:

a.   Pria punya stok 7.000 kata per hari sedangkan wanita 20.000 kata per hari.
Inilah sebabnya kenapa perempuan kebanyakan begitu bawel dan cerewet. Karena memang stoknya banyak. Sedangkan bagi suami istri, kenapa kalau suaminya pulang ke rumah ngomongnya hanya sedikit? Karena stoknya sudah habis di kantor._. terkadang mungkin saat perempuan berbicara pada laki-laki dan ditanggapinnya cuma, “Hm” atau bahkan hanya menengokkan kepalanya, ketahuilah ternyata itu lumrah. Memang laki-laki seperti itu.

b.   Corpus Callosum wanita lebih tebal daripada pria.
Apa itu corpus callosum? Corpus callosum adalah bagian dari otak yang menghubungkan otak kanan dan kiri (selebihnya liat di google, takut salah). Ternyata corpus callosum wanita lebih tebal dari pria, apa artinya? Wanita memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal dalam satu waktu. That’s cool yeah? Hahaha. Sedangkan pria hanya dapat melakukan satu hal dalam satu waktu karena itu pria lebih mudah konsentrasi. Dan ketika pria berkonsentrasi, pendengarannya menurun. Itu sebabnya, kalau ada istri manggil suaminya yang lagi asyik nonton bola, dia ngga nyaut-nyaut. Sekarang sudah tau sebabnya kenapa kan? J

c.   Pria lebih suka membicarakan ide/gagasan sedangkan wanita lebih suka mencari informasi.
Well, pria cenderung lebih suka kalau membicarakan gagasan. Misalnya di sebuah rapat. Sedangkan wanita lebih suka mencari informasi….hmm pasti mikirnya ke gossip ya? I know L

d.   Pria tertarik dengan benda yang bergerak
Itulah sebabnya kenapa pria suka nonton bola atau main games dan bisa tahan berjam-jam. Kalau toh ada wanita yang seperti itu, berarti dia kelebihan sedikit hormon testosteron (oh…baru tau._.). Ada saat dimana wanita bicara ke pria dan dia tidak menatap wajah wanita, kenapa? Karena mungkin wanita itu bukan muhrimnya (trying to tell joke ha ha). Bukan bukan, karena pria tidak betah melihat wajah. Dan tentunya bukan karena ingin bersikap acuh tak acuh! Karena itu saat berbicara dengan pria dan dia tidak menatap wajah kita, just keep talking. Mereka mendengarkan kok, asal tiap 10 menit kita tanya, “ngerti nggak?” hehe.

e.   Pandangan pria lurus dan panjang sedangkan wanita pendek dan lebar
Coba luruskan tanganmu ke depan dan fokus tatap jari tengah. Kalau wanita masih bisa melihat sekeliling kanan dan kiri sedangkan pria tatapannya fokus lurus dan panjang. Itulah kenapa wanita pas masak bisa sambil liat kanan kiri kalau ada tikus atau kecoa!

f.    Pria menginginkah kedudukan, kekuasaan, dan bersaing sedangkan wanita menginginkan hubungan dan kerjasama
Rata-rata ibu-ibu punya perkumpulan kan? Hahaha. Entah perkumpulan beli sayur barenga atau PKK, pengajian, arisan, dll. Ya, karena wanita mengingikan hubungan dan kerjasama. Kalau pria lebih menginginkan kedudukan, kekuasaan, dan bersaing. Hal ini berkaitan juga dengan poin c karena pria lebih suka membicarakan ide/gagasan.

g.   Wanita bisa berubah ekspresi wajah 6 kali dalam 10 detik
Perhatikan ilustrasi ini!
Osa           : “Fany, 1D mau ke Indonesia! Akhirnya!” (bahagia berbunga-bunga)
Fany         : “Wah Alhamdulillah yah” (ikut seneng)
Osa           : “Tapi Zayn ngga ikut” (sedih)
Fany         : “Loh kenapa?” (kaget)
Osa           : “Dia keluar dari 1D” (makin sedih)
Fany         : “Demiapa? Yaampun sa, sabar ya. Masih mending 1D ngga bubar.” (menegarkan)
Got it? Banyak ekspresi.
Kalau pria satu ekspresi dalam 10 menit. Tunggulah menit ke 11 keatas untuk melihat responnya yang lebih ekspresif. Jangan keburu bĂȘte,ok?

Setelah memaparkan tentang perbedaan pria dan wanita, bu Aisah meminta mbak&mas yang membawakan lagu tadi untuk mendemonstrasikan bagaimana ketika mereka menghisap ganja dan kawan-kawannya. Biasanya, jenis narkoba ini digunakan untuk menghilangkan rasa sakit. Efeknya bisa jadi bahagia sesaat dan halusinasi, namun selanjutnya? Kesakitan yang luar biasa. Melalui peragaan langsung ini, aku jadi tau betapa ngerinya pakai narkoba. “Sakitnya seperti kuku kita dicabut.” kata dr. Aisah. Ada lagi jenis pil yang biasa dipakai di diskotik, kalau kita minum seperempatnya aja jantung kita yang biasanya berdebar 80-90 kali per menit menjadi 120 kali per menit. Itulah kenapa di diskotik disetelkan musik berirama cepat untuk mengimbangi detak jantung mereka. Seperempat pil ini membuat mereka bisa joget sampe 2 jam! Really have to say no to drugs, right? Lebih baik buat ngaji… (alim J) Hati-hati juga dengan orang yang bicaranya cadel, lidahnya terasa berat, dan ngelantur. Bisa jadi dia sedang menggunakan narkoba. Dan sebenarnya masih banyak lagi peragaan dari masig-masing efek yang ditimbulkan oleh berbagai jenis narkoba. Terlalu panjang kalau diceritakan satu-satu disini hehe.

Kemudian ada sesi tanya jawab dengan mantan pecandu. Yang mengejutkan saat ditanya darimana mereka mendapatkan narkoba tersebut, salah satu dari 2 perempuan itu menjawab dari teman laki-lakinya di pesantren. Dia dulu seorang santri yang baik hingga kemudian terjerumus ke penyalahgunaan narkoba. See? Narkoba bisa beredar dimana saja. Waspadalah! Dan yang lebih mencengangkan lagi, dia adalah pemakai terlama diantara teman-teman se grup musiknya, 17 tahun. Ia mengaku dulu sehari bisa menghabiskan 2 juta untuk membeli barang terlarang itu. Lalu darimana dapat uangnya? Pertama dari uang tabungan, kemudian kalau sudah habis mulai malak, ngamen, mencuri, dan memicu tindak kriminal lainnya. Ada juga yang mencicipi narkoba sejak usia 14 tahun, SMP! Masa ketika sudah ngga lucu tapi ganteng juga engga hahaha. Ia mengaku dapat dari temannya.

“Kalian dulu punya prestasi nggak sebelum kecanduan narkoba?” tanya dr. Aisah. Satu per satu pun menjawab, ada yang juara MTQ (MTQ?!?!?!?!!!), nyanyi, baca puisi, sepak bola, dll. Awalnya mereka adalah anak baik-baik hingga bertemu orang yang salah disaat yang salah.

“Kalian dekat ngga sih sama orang tua?” tanya dr. Aisah lagi, semuanya menjawab tidak. Dan ketika disuruh menyampaikan apa yang ingin disampaikan kepada orang tua, mereka rata-rata menjawab kalau anak tidak suka dimarahi, dibanding-bandingkan hingga menyebabkan dia tidak betah di rumah karena setiap pulang selalu dimarahi.

Alhamdulillah kini mereka sudah memasukin tahap “clean” walaupun tidak bisa sepenuhnya. Mereka harus tetap bersama dan membentuk grup karena kalau lepas bisa tersangkut lagi. Untuk kita, ada baiknya kita mendukung perubahan baik mereka. Jangan terus-terusan menganggap mereka masih sama. Justru dukunglah pemulihan mereka dan jangan biarkan generasi muda kita diracuni obat terlarang! Kenali gejalanya dan SAY NO TO DRUGS!


Kamis, 25 Juni 2015

Save The Last For The Best!

Inilah secuil ceritaku saat mendaftar FK UII. 

Pendaftaran
Saat itu menjelang pukul 16.00 saat aku dan papa berangkat menuju Stasiun Gambir untuk pergi ke Yogyakarta. Besok adalah pendaftaran terakhir PBT UII sekaligus gelombang terakhir. Ini kali pertama aku mengikuti tes di UII. Akhirnya kami sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta pagi sekali dan langsung menuju Hotel Ishiro di Jl. Kaliurang Km 4.

Setelah mencari sarapan, aku dan papa langsung melanjutkan perjalanan menuju UII naik taksi, satu-satunya kendaraan umum yang ada di Jogja. Sebenarnya masih ada semacam minibus yang sudah tua dan juga transjogja, tapi setahuku ngga melewati rute ke UII di Jl. Kaliurang Km 14. Dan ditambah lagi menunggu kendaraan tersebut memakan waktu lama.

Akhirnya sampailah di gedung D3 Ekonomi UII, tempat pendaftaran dan langsung mengambil nomor antrian. Sekilas tentang UII, UII merupakan kampus swasta tertua di Indonesia. Suasana kampusnya rindang, hijau, sejuk, dan bersih. Kesan pertama,
“WOW”. Hahaha. Setelah membayar biaya pendaftaran sebesar 250.000, aku langsung menuju basement di dekat situ untuk key in data dan selanjutnya melakukan foto dan sidik jari. Wah ketat juga ya ternyata.

Singkat cerita, semua proses pendaftaran rampung dan tinggal menunggu tesnya yang bertepatan pada tanggal 14 Juni. Yap! Bebarengan dengan SIMAK UI dan UTUL UGM. Dan lalainya, aku lupa membooking hotel lain di sekitar situ, semua full! Ditambah lagi ada acara wisuda di UPN Jogja. Sempat bingung, masa mau menggelandang? L

Hari itu kumanfaatkan belajar soal-soal yang dikirim Dita. Sementara papa keluar untuk solat Jumat dan mencari hotel. Alhamdulillah dapat walaupun ini tidak bisa dibilang hotel, lebih mirip penginapan. Ngga papa, Ya Allah aku ikhlas. Wkwkwk. Tersisalah malam terakhir sebelum bertempur lagi seusai SBMPTN. Aku tidur pukul 22.30.

Tes Tahap 1
            Pagi sekali sudah banyak yang berkumpul di gedung FTSP. Aku langsung menuju ruangan ujianku yang terletak di lantai 3. Jika bisa kugambarkan bagaimana suasana disana? (Atau mungkin suasana hatiku sendiri?) TEGANG. Aku duduk sambil membolak balik buku soal-soal sambil sesekali berhenti untuk memperhatikan sekitar. Makin siang makin banyak yang datang. Okay, aku ngga boleh grogi dan deg-degan. Bisa buyar. Sebenarnya sudah dari semalam aku memasrahkan diri sama Allah. “Ya Allah, aku sudah melakukan yang terbaik. Aku ikhlas dengan hasilnya. Aku percaya bahwa Engkau akan memberiku yang menurutMu baik.”

            Khusus Fakultas Kedokteran, jumlah soalnya 125 dengan waktu 125 menit. Jadi, masing-masing soal 25 menit. Soalnya terdiri dari Agama Islam, Bahasa Inggris, TPA, Aritmatika/Matematika, dan IPA. Tes dimulai tepat pukul 09.00 dan saat itu salah satu pengawas berseru, “Kami ingatkan kepada yang merasa menjadi joki di ruangan ini untuk segera keluar.” katanya. “Kami beri kesempatan.” Semua muslimah (ya, karena satu ruang auditorium perempuan berhijab semua) melirik satu sama lain, tak ada yang bergeming. Disela-sela tes, dua orang pengawas menghampiri satu per satu peserta (yang sepertinya berjumlah hampir 100 orang) untuk dicek kartu pesertanya dan juga….sidik jari.

            Gong terakhir pertanda selesainya tes berbunyi. Aku merasa lega walaupun jari-jari tanganku masih gemetar. Entah kenapa aku tidak pernah merasa selega ini sebelumnya, bahkan setelah SBMPTN yang kurasakan hanya galau. Okay, tinggal menunggu tiga hari kemudian untuk mengetahui apakah aku lolos atau tidak. Untuk melewatkan tiga hari itu, aku pulang ke Malang. Refreshing.

            Tak terasa sudah tanggal 17 Juni dan pagi-pagi sekali kubuka website UII untuk melihat pengumuman. Hatiku bergetar (lebay-_-). Alhamdulillah, aku lolos tahap satu. Sungguh mengejutkan! Banyak yang mencoba berkali-kali untuk tembus FK UII. Namun Allah memberiku kemudahan dengan satu kali coba langsung lolos. Ya, kalau nggak lolos harus melupakan UII karena ini gelombang terakhir. Agak berat ya, karena aku belum dapat tempat bernaung untuk kuliah alias belum diterima dimana-mana. Apalagi akreditasi FK UII ini sudah A. J

Tes Tahap 2
            Lolos tahap 1 tidak bisa enak leha-leha, khusus FK diwajibkan mengikuti tes tahap 2 tanggal 19 Juni yang mencakup wawancara, psikotes, dan mengerjakan soal IPA essay. Sebelumnya, Dita sudah menceritakan tentang tes tahap 2 ini. Dia memintaku untuk hati-hati, karena dari gelombangnya “dibuang” lima orang. Susah juga mau jadi dokter ya…

Aku, Mama, Papa berangkat ke Jogja dari Malang tanggal 18 Juni pagi dengan kereta. Keesokan harinya setelah sarapan, kami langsung menuju ke Gedung Prof. Dr. Sardjito UII. Orang tua dan anak mereka sudah ada di lantai 3, aku duduk diluar karena di dalam sudah nggak ada tempat duduk lagi. Aku sempat mengobrol dengan beberapa peserta disitu, jarang malah yang dari Jogja. Rata-rata luar kota, Magelang, Bogor, Lampung, bahkan Mataram. Amazing, pikirku.

Tes pun dimulai. Dibagikan kertas tentang pernyataan yang harus kita jawab. Pertanyaan-pertanyaannya kurang lebih seperti, “Apakah anda mempunyai banyak teman?” “Apakah anda takut darah?”. Ada juga tes menggambar orang, pohon, dan rumah. Menyusul kemudian mengerjakan soal IPA essay. Semuanya akhirnya selesai. Tinggal menunggu antrian wawancara. Yang didahulukan anak laki-laki karena mepet dengan waktu jumatan. Well, kuhabiskan waktu mengobrol dengan teman-teman baruku, Zaski dari Bogor dan Lia dari Jogja (lokal nih lokal akhirnya wkwk).

Petugas mulai memanggil nama kami satu per satu untuk pergi ke ruang wawancara di gedung sebelah. Tanganku mulai dingin sedangkan badanku panas (loh?-_-). “Yang penting jaga sikap. Jangan lupa salam.” Aku teringat nasehat Dita di whatsapp.

“Assalamualaikum” kataku sok manis kepada dokter penguji. Ya aku grogi, mau gimana lagi untuk pura-pura ngga grogi? “Waalaikumsalam, silahkan duduk” katanya ramah. Kemudian dokter tersebut membuka berkas-berkasku. “Annisa ya?” tanyanya. “Iya betul” jawabku sopan. “Kamu sekolah di Jakarta ya? Kenapa pilih di Jogja?” kujawab spontan, “Karena di Jakarta suasananya kurang enak untuk belajar, bu. Rame. Hehe.” “Hm gitu”

“Kamu anak keberapa?” lanjutnya. “Pertama dan terakhir, bu.” “Oh anak tunggal ya, berarti tulang punggung keluarga…” (akhirnya responnya panjang juga wkwk). Lalu tibalah ke pertanyaan, “Kenapa kepengen jadi dokter?” dengan polos dan gatau apa-apa aku menjawab, “Karena saya ingin  mengabdi kepada masyarakat, bu.” Aku merasa eneg dengan jawaban bullshitku dan mungkin juga dirasakan sama bu dokter penguji. “Kamu pengen jadi dokter seperti apa sih?” lanjutnya. “Hmm saya pengen jadi dokter yang tidak terlalu classy” kataku sambil mengacungkan jari menandakan tanda kutip. “Maksudnya nggak terlalu kelas atas. Banyak orang diluar sana yang belum mendapat pengobatan layak karena mahal.” tambahku. Tak kusangka aku makin dikejar dengan jawaban macam ini. Aku harus kuaaaaat! (?)

“Kalau gitu kamu dapat penghasilan darimana?” “Saya mau daftar PNS, bu” jawabku yang bener-bener seadanya karena nggak tau mau jawab apa lagi. “Karena kalau PNS kan hidupnya terjamin” tambahku makin sotoy. Ya, setauku begitu. PNS Jakarta aja minimal 12juta. Tapi percayalah, insyaAllah bukan itu niatanku. Aku baru kepikir pas sudah selesai kenapa aku nggak jawab gini, “Saya juga mau buka usaha, bu. Jadi masalah keuangan nggak jadi beban.” Atau mungkin, “Saya mau cari suami orang kaya aja, bu.” (NGAKAK)

Aku sempat bĂȘte di sesi ini karena aku bener-bener kelihatan ga kuat niatan jadi dokter. Lalu topik beralih ke sekolah. “Kamu ikut organsasi?” aku terdiam. Aku pasif. Aku ngga ikut OSIS. Akhirnya kujawab, “Ikut English Club, bu.” “Berarti bahasa Inggris kamu bagus dong?” “Yaaa lumayaan…” jawabku nyantai. “TOEFL kamu berapa?” “Belum pernah tes TOEFL, bu. Pernahnya TOEIC.” Hening sejenak. “Coba kamu perkenalkan diri pakai bahasa Inggris!” waduh pikirku, leh uga nih. Dengan gaya sok pede aku mulai, “My name is Annisa Tristifany. I’m the first and the last child in my family.” Hahaha ngulang-ngulang yang tadi karena bingung. Aku diam sejenak untuk berpikir apalagi yang harus dibicarakan. “I was born in Malang on 20th of January 1997.” Bu dokter penguji mengangguk. “My hobby is…writing…about my opinion on my blog, reading book sometime…and….playing tennis.” “Oh kamu suka tennis?” tanyanya. “Yes” jawabku yang masih kebawa bahasa Inggris.

Selanjutnya bu dokter penguji memberiku beberapa kertas bacaan untuk dijawab. Diantaranya kasus penyakit batuk rejan, pengertian transpor aktif, dan sistem pembelajaran di FK UII. Aku lega saat penguji bilang, “Sudah kayaknya itu aja…” aku menata kembali kertas itu dan salim (?) “Makasi, Bu.” kataku. Saat aku mau keluar tiba-tiba ia berkata, “Kalau nanti kuliah di UII jangan pakai celana jeans ya…” “Harus rok, bu?” “Engga, celana boleh tapi kain yang longgar.” “Oh iya…”

Aku kemudian keluar dan memberitahu peserta selanjutnya untuk masuk. Alhamdulillah aku lolos tahap kedua dari resmi diterima di UII.


Seperti kata Fina, “Save the last for the best.” Hahaha.