Ketika hatimu terlalu
berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan atas kamu pedihnya sebuah
pengharapan supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang
berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali
berharap kepadaNya. [Imam Syafi’i]
Saat
kita menyenangi sesuatu akan muncul sebuah harapan sebagai bentuk ekspektasi
terhadap apa yang akan terjadi. Harapan membuat kita lebih bersemangat
mengerjakan sesuatu karena kita merasa termotivasi. Secara tidak langsung,
harapan memberi semangat di dalam pikiran bawah sadar.
Memiliki
harapan atau ekspektasi bukanlah hal yang salah, namun tidak semua yang terjadi
akan sesuai seperti apa yang kita harapkan. Tidak jarang bahwa hal-hal yang
terjadi justru diluar dugaan. Terkadang kita malah merasa putus asa, sedih, dan
perasaan yang mungkin paling dominan adalah kecewa. Orang-orang selalu
mengatakan bahwa kekecewaan selalu ada di akhir. Aku sering bertanya, mengapa
kekecewaan selalu berada di akhir? Menurutku, kekecewaan letaknya di akhir agar
kita dapat berusaha mempersiapkan dan memikirkan secara matang sebelum kita
melakukan sesuatu dan menaruh harapan disana.
Lalu,
apakah salah jika kita sudah berusaha melakukan yang terbaik dan memikirkannya
dengan matang namun malah berakhir dengan perasaan kecewa? Tidak! Tidak!
Harapan harus selalu ada di setiap hal yang ingin kita wujudkan. Mari kita
kaitkan masalah pengharapan dengan salah satu ayat Al-Qur’an Surah At-Taubah
ayat 129 “Cukuplah Allah bagiku; tidak
ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakal” Salah satu makna yang
ku tangkap dari ayat tersebut adalah jika kita menginginkan sesuatu, kita harus
berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Setelah itu yang bisa kita
lakukan hanyalah berdo’a dan tawakal. Apapun hasilnya, Allah lebih tahu mana
yang lebih kita butuhkan.
Seringkali
kita merasa bahwa seolah-olah Allah salah memutuskan sesuatu hal atas kita,
namun kita sering lupa bahwa Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi
sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal
itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” [QS
Al Baqarah: 216]. Jika kita telah memasrahkan diri akan segala hasil yang akan
kita terima dan percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita,
insyaAllah apapun itu kita akan menerimanya dengan ikhlas. Apabila harapan
belum sesuai dengan realita, hendaknya kita jangan terlalu bersedih karena
selalu ada hikmah di setiap kejadian. Bisa jadi Allah menginginkan kita
mempelajari sesuatu dari kekecewaan tersebut.
Berbicara
mengenai harapan memang tidak bisa dipisahkan dari kekecewaan. Awalnya pikiran kita
membentuk ekspektasi hingga masuk ke dalam alam bawah sadar seiring dengan
kuatnya harapan tersebut. Apa yang terjadi kedepannya masih menjadi misteri.
Kekecewaan yang kita rasakan hendaknya jangan hanya membuat kita bersedih dan
putus asa, pelajarilah sesuatu dari setiap kejadian. Mungkin, dengan merasakan
kekecewaan karena ketidaksesuaikan ekspektasi terhadap sesuatu atau seseorang,
kita akhirnya dapat belajar bahwa dikecewakan itu rasanya tidak enak.
Kedepannya diharapkan kita akan lebih berhati-hati melakukan sesuatu ataupun
memperlakukan orang lain agar tidak menerima kekecewaan yang sama dengan apa
yang kita rasakan.
Tetap
semangat, berusaha lebih keras, berdo’a lebih khusyu’, dan serahkan semuanya
kepada Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar