Rabu, 25 Mei 2016

Does it Need to be Changed?

I got sad easily recent days.
Why?
Things that bother my mind is about the change that should be done.
Something in life cannot last forever.
It has to be ended someday, even our life has a limit.
We cannot enjoy things we love forever.
Am I talking about the end? Or am I just trying to deny the change?
Do I have to blame the hormone, lymbic system, or just me?
I don’t understand why I hate the idea about the change in life.
We must have some things or memories that we wanted to hold.
I have learned that things do need to be changed.
We grow up, we change.
We get older, we have to live like an adult.
There are things that we don’t want to change in our life.
But everything is changing.
Every second, every breathe that we take.
There should be something that’s changing.
Everything will not be the same anymore.
Hold on, remember the memories which have passed.
Appreciate the time that’s still left.
Because life rolls on.....
Because people do change.....
Because you need to face what’s coming up!

Change is hard at first, messy in the middle, and gorgeous at the end.
[Robin Sharma]


            

Sabtu, 21 Mei 2016

Evergreen

Cause this world would be empty without you
It scares me that this life would mean nothing without you
Someday we’ll have to say goodbye
I need to let you know that I will never try to fill the space between
It’ll only ever be....
You and Me
[Shane Filan – You and Me]

Wacana Berubah Jadi Rencana
Hari itu tanggal 16 Mei 2016 saat kami berencana memberi late birthday surprise ke Tina yang sebenarnya berulang tahun pada tanggal 10 April. Kami pergi makan bersama di Lesada. Setiap surprise selalu mempunyai kendala. Dan kendalanya ada-ada aja. Entah yang mau di-surpise-in pergi entah kemana atau bingung harus improvisasi gimana. Hari itu ATM Tina hilang, dia harus segera pergi untuk memblokir ATM yang hilang itu. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung membuka kuenya bersama-sama dan menancapkan lilin angka “20” di atasnya. “Tina Tina Tina, sini dulu, HAPPY BIRTHDAY TINAAAA”. “Tina coba mukanya pura-pura kaget bahagia” kata Yevy yang sibuk mengabadikan momen ini lewat kamera hapenya yang wew itu. Tina manut dan melakukan apa yang dikatakan Yevy.
Setelah foto-foto dan icip kue ulang tahun Tina yang maknyus banget, dia pergi untuk mengurus pemblokiran ATM. Sementara kami masih disana dan mengobrol random tentang rencana pergi ke Ratu Boko setelah ujian blok 1.5 Endokrin & Reproduksi. Semuanya menyambut antusias. Sudah cukup lama kami tidak pergi bermain bersama. “Nanti kita piknik aja disana” sebuah usulan cute muncul. “Nanti Syihab bawa mobil aja, biar bisa masukin tiker”. Ide-ide lain mulai berkembang terutama tentang rencana piknik. Kami sangat excited membicarakannya. Hanya ada satu kalimat yang menutup pembicaraan seru hari itu, “Tapi jangan wacana ya!”

Ujian Blok
          Tibalah waktu penentuan 50% porsi dari nilai blok kami. Mulai semester dua, sistem ujian kami diganti menggunakan CBT. Kami terbagi menjadi dua gelombang, gelombang pukul 7:15 dan pukul 10:15. Otakku sudah mulai lelah melihat buku kecil bersampul oranye yang merupakan rangkuman materi. Walaupun aku merasa belum terlalu menguasainya, aku memilih untuk menutup buku tersebut. Aku duduk di kursi nomor 98 dan mulai mengerjakan soal ujian blok. “WEW” pikirku saat meng-klik nomer demi nomer. Aku banyak memberi simbol bendera di nomor yang masih meragukan.
Why? Soalnya membuatku berpikir keras untuk menganalisa jawaban yang tepat. Entah mengapa aku sangat ingin mengupil. Akhirnya, aku mengerjakan soal ujian blok dengan mengupil. [RANDOM BANGET SUMPAH HAHAHA].

Ditinggal Sendirian
          Alhamdulillah sampailah kami di hari H pelaksanaan jalan-jalan bareng. Kami memutuskan untuk pergi ke Tebing Breksi, Candi Ijo, dan terakhir ke komplek Candi Ratu Boko untuk melihat matahari terbenam yang indah. Seperti biasa, kami janjian berkumpul di Bookstore di dekat gerbang masuk UII. Aku berjalan menuju Bookstore sekiatr pukul 7:30. Hanya ada Syihab, Hafidz, Kemal, Iman, Syifa, dan aku disana. Tak lama kemudian Tina datang bersama dengan adeknya yang sedang berlibur ke Yogyakarta. Tina meminta izin untuk sarapan sebentar. Tiba-tiba........cinta datang kepadaku~ bukan -_- Syifa minta izin pergi untuk pipis, sedangkan keempat pria-pria itu malah sarapan bareng dan mereka meninggalkanku sendirian untuk menjaga mobil dan tas Hafidz. Well, gengs, well! Kami berangkat pulul 8:30, molor satu jam dari jadwal semula.

Ini dimana?
            “Lewat jalan tembus aja!” kata Tina megusulkan. Kami bersiap untuk berkendara menuju tempat trip kami kali ini. Syihab, Iman, Tina, dan adeknya bersama-sama naik mobil Syihab. Zahra bersama dengan Yevy, Kemal dengan Hafidz, dan aku dengan Syifa. Kami menyusuri jalan dengan dihiasi pemandangan sawah hijau yang tiada habisnya. Cuaca tidak terlalu panas, namun bisa dikatakan mendung. Aku hanya bisa berdoa agar tidak turun hujan sehingga memudahkan acara hura-hura kami hari ini, 21 Mei 2016.
            “Ini dimana, Syif?” tanyaku mulai penasaran. “Aku ngga tau eh...” kami terus mengikuti rombongan yang terdiri dari sepuluh orang tersebut hingga tiba di Jalan Raya Solo- Jogja.

Salah Jalur
          Tibalah kami di daerah Kalasan, daerah yang sangat asing buatku yang hanya tau jalan kaliurang, jalan magelang, dan stasiun Tugu Yogyakarta........ krik. Kami terus melaju dengan semangat kawula muda membara di dada (asli ini bahasanya apa banget wkwk). Lalu semua berubah saat....”Syif, ini roda empat” plang lalu lintas berwarna hijau membuatku tercengang. Sementara Syifa masih melaju. “Kita salah ya?” “Iya”
            Entah apa yang ada dipikiran kami saat itu sehingga tidak ada inisiatif untuk memutar balik. Aku menengok ke belakang, melihat rombongan Kemal-Hafidz dan Zahra-Yevy. Hanya ada Zahra-Yevy yang tepat berada di belakang kami. “Eh kalian kok ngikutin, ini kan roda empat...” kata Syifa. Hening. Tak lama kemudian Kemal-Hafidz muncul, “Eh kalian kok disitu?” dia berada di jalur sebelah kiri yang terpisah dari kami.
            Sialnya....dan singkat cerita, kami berdua ditilang.

Tebing Breksi
          Setelah melewati jalan tikus ajaib, kami akhirnya tiba di tebing breksi! YAY YAY. SELAMAT SELAMAT! Cuaca masih tetap teduh seperti saat kami berangkat. Tebing yang tersusun atas batu breksi yang membentuk diding raksasa sudah terhampar di depan pandangan kami. Disana kami sibuk untuk hunting foto (pastinya) dengan segala gaya, daya, upaya, dan tenaga. Kami menyusuri tangga untuk naik hingga ke puncak tebing itu. Dari puncaknya, kita bisa melihat landasan udara bandara adi sucipto dan juga Candi Ratu Boko.
            Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11:30, kami bersegera pergi ke destinasi selanjutnya, Candi Ijo yang terletak lebih atas dari tebing breksi. Semua sudah terlihat lelah, lapar, letih, lunglai. Tampaknya kami memerlukan asupan glukosa sebelum tubuh kami mengalami glukoneogenesis. Halah. Cuaca berubah menjadi sangat panas dan terik. “Kayaknya aku iteman ini....” “Pulang-pulang langsung maskeran...”

                               

Candi Ijo
            YAYNESS! Kami sampai di destinasi kedua yakni Candi Ijo! Welcome guys. Kami tidak terlalu lama singgah disini karena harus turun ke bawah untuk sholat dhuhur. Hanya foto-foto ala kadarnya dengan semangat yang tidak semembara di tebing breksi tadi. Kami butuh asupan glukosa, kakak, help (?). Kami terpencar-pencar, aku hanya memilih duduk di pinggiran candi dan memotret mereka yang ingin dipotret. “Fan, foto loncat. Aku mau buktiin kalo aku bisa loncat.” kata Kemal sambil menyerahkan handphone Yevy. “1 2 3!” pose loncat Kemal kurang greget walaupun tidak bisa dibilang gagal.
            “Gini lho mal, kalau loncat kakinya ditekuk” kataku menggurui. Tak lama kemudian Hafidz dan Iman ikut project foto loncat. Mereka mulai mempermasalhkan kaki panjang lebih susah untuk foto loncat. Kemudian, aku meminta Hafidz untuk memotretku denga pose foto loncat. “Kamu kalo foto loncat selalu bagus eh, Fan” “Kakinya pendek...” kata Kemal menanggapi. Ok. Fine, gengs.

Mau Makan Aja Susah
          Setelah menunaikan sholat dhuhur, kami caw untuk menambah asupan glukosa dalam tubuh (baca: cari makan). Entah kami harus kemana mencarinya, kami tidak tahu arah, kami hanya mengikuti insting, kami anak baik-baik yang kelaparan. Kami seperti berkendara tanpa tau arah tujuan. “Wah, bayi sudah mulai lelah...” Kemal meledekku. Ew....aku menjadi “bayi” di Tutorial 16 karena...paling...imut...aleman. J
Daerah sekitar komplek candi yang kami merupakan suburb sehingga cukup susah untuk menemukan tempat makan yang muat untuk sepuluh orang. Akhirnya kami tiba di warung padang.

Ratu Boko
          Aku bingung harus memulai darimana saat akan menceritakan Ratu Boko (cie speechless). Kami tiba disana pukul 14:45 dan langsung pergi ke mushola untuk persiapan sholat ashar. Eits, lupa. Kami membeli tiket masuk seharga Rp 25.000 dan membayar parkir untuk satu mobil dan tiga motor. Jalan menuju Ratu Boko hampir sama sepeti ke Candi Ijo dan Tebing Breksi, menukik dan masih berlubang. Bisa diibaratkan seperti perjalanan hidup, naik naik naik sulit dan penuh rintangan tapi toh akhirnya kita akan sampai untuk melihat keindahan di ujung perjalanan (lagi bijak).
            Alhamdulillah, sholat ashar is done! Saat kami akan naik menuju kompleks Ratu Boko, kami bertemu dengan teman kami, Raras, Banun, dan Shela! Yay yay. “Ayo ibu ibu foto dulu” kata Hafidz. Dia menjadi fotografer profesional bersama dengan Kemal. “(translated) aku kalau fotoin orang bagus, giliran aku yang difotoin jelek” curhatan Hafidz. :’) Setelah foto-foto ala ibu-ibu sosialita, kami berpisah. Raras, Banun, dan Shela akan melanjutkan perjalanan ke destinasi lain. “Di atas sana luaaas banget, semangat ya!” kata Raras.          

                               

            Wew, ternyata seperti ini Ratu Boko.......luas. Bangunan reruntuhan candi dengan di atas rumput hijau yang sangat luas. Weekend menyebabkan sangat ramai orang datang mengunjungi candi yang diduga merupakan reruntuhan kerajaan mataram hindu ini. Dengan lincahnya, Yevy sudah berlari kesana kemari minta difoto hahaha. Ga ada lo ga rame memang, Yev. “Fotoin aku disini nah!” “Eh disini bagus banget”
            Berbagai hal kami alami dari mulai kebanyakan foto sampai kamera DSLR Ramdan yang kami pinjam kehabisan baterai. Untungnya Kemal membawa charger kamera dan it works again. Kami menyusuri komplek Ratu Boko sampai ke seluk beluknya. Hingga kami tiba di salah satu bagian kompleks candi yang disebut pendapa. View langit sore yang sedikit mendung tidak menyurutkan semangat kami....untuk foto-foto (-_-).
            Disini kami menyaksikan perlombaan panjat-pendopo-dengan-sekali-hentak! Wkwkwk. Keempat pria tangguh tutorial 16 adalah pesertanya. Fyi, ini hanyalah lomba bikinan kami para cewek-cewek. Aku membawa handphone Yevy untuk memvideo lomba yang kelihatannya bakal kocak parah ini. Dan benar....”1 2 3!!!” sudah dapat diduga siapa yang....kalah hahaha, Kemal. Hafidz, Syihab, dan Iman sudah mencapai atas terlebih dahulu sedangkan Kemal masih ‘nyangkut’.

                                

            Hari mulai beranjak sore, sepertinya kami tidak akan bisa melihat matahari terbenam karena cuaca mendung. “Kita nginep sini aja, sekalian besok liat sunrise” kata Syifa ngawur. Kami turun kembali mendekati gapura kompleks Ratu Boko dan berbaring di hamparan rumput hijau yang luas. Aku dan Zahra kelelahan, kami berbaring di rumput sembari memandang langit biru pucat yang akan ditinggal pergi oleh matahari. “Za, kamu tahu kenapa aku pengen ke Ratu Boko?” tanyaku random. “Kenapa, Fan?” “Karena cerita yang waktu itu aku share ke kamu di line” Zahra mengerutkan dahi berusaha mengingat-ingat. “Yang Y stands for Yogyakarta and You” jawabku. “Oooh iya iya” lalu dia tertawa.
            Kami berkumpul kembali setelah beberapa saat terpencar, antara yang ingin leyeh-leyeh dan melanjutkan hunting foto. “He, mbok sini, kalian tak foto buat kenang-kenangan” Kemal menyiapkan kameranya. Kami menghabiskan waktu hingga pukul 17:00 di komplek Ratu Boko, berbicara hal yang sangat random, tertawa bersama di bawah langit sore (?). “Dua blok lagi ya...aku kok sedih ya. Tapi aku juga seneng hari ini” aku mulai baper. “Aku lebih ke sedih sih” kata Syifa. Hening sesaat.

            “Ayo foto bareng-bareng geeengs!”
            “Lope lope”
            “Yang cowok tanda silang”
            “Sekarang gantiaaan”
            “Gini juga bisa jadi love”
            “Tanganku ngga bisa gini”

            Kemudian di dalam pikiranku muncul lagu Evergreen dari Westlife.........

I’m gonna take this moment
And make it last forever
I’m gonna give my heart away and pray we’ll stay together
Cos you’re the one good reason
You’re the only (girl) that I need
Cos you’re more beautiful than I have ever seen
I’m gonna take this night
And makes it evergreen

Kunci Kosku Dimana?!?!
          Seusai makan di pondok laras bersama Yevy, Zahra, dan Syifa, aku merogoh tasku. Aku kaget karena tidak menemukan kunci kosku. GIMANA INI? DIMANA? Aku mulai berpikir tenang dan mengingat-ingat, dugaanku: tertinggal di tempat aku sarapan. Aku ditemani Syifa dan Zahra bersama-sama pergi kesana. Alhamdulillah, ternyata ada.

 Our Memories
          “Aku sayang kalian”
            “Thanks a lot for today”
            Adalah dua hal yang mungkin bisa dibilang sangat kurang untuk mendeskripsikan betapa aku sayang sama mereka (alay yo hahaha).
But gengs, you’re the home when I’m away from home. Thanks for every moments we share together. The laughs, the jokes, all-bully-things. If I am able to stop the time, I will stop this moment and repeat it all over again. Maybe few years ahead, when you miss our moments, you can take a look at this not-enough-good writing and recall things we’ve done together. Semoga Allah tetap menjaga persahabatan kita selama lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaanya. Aamiin Ya Rabbal Alamin


                                 

Sabtu, 14 Mei 2016

Rejected? It's RE-DIRECTED

Aku tertarik dengan sebuah quotes saat aku men­-scroll down timeline instragram.

As I look back on my life, I realize that everytime I thought I was being rejected from something good, I was actually being re-directed into something better.

Hal yang pertama kali muncul di pikiranku adalah saat aku berusaha mencoba tes di beberapa fakultas kedokteran baik negeri maupun swasta. Tentu saja aku sangat menginginkan untuk bisa masuk di fakultas kedokteran negeri. Entah mengapa dari semua ikhtiar yang telah kulakukan, Allah mengarahkanku kesini, Universitas Islam Indonesia.

Pada mulanya aku masih sangat menginginkan untuk masuk di fakultas kedokteran negeri, namun semua tes yang kucoba mengatakan sebaliknya. Berkaitan dengan quotes tadi, aku benar-benar merasa bersyukur. Aku tersesat di jalan yang tepat. Disini tidak hanya diajarkan materi perkualiahan medis, tapi juga meninjaunya dari segi agama Islam. Kami juga dibekali beberapa pendidikan keislaman seperti pesatrensisasi, ONDI, dan LKID.

Suasana kampus yang islami juga mendorongku untuk berubah lebih baik. Dulunya aku sudah pernah meniatkan menggunakan hijab syar’i, sekarang aku insyaAllah semakin yakin dengan perubahan menjadi lebih syar’i. Selain itu, kami juga ditarget hafalan surah juz amma (juz 30) setiap semesternya. Apabila kami tidak hafal, kami tidak diperkenankan mengikuti ujian OSCE.

Tidak hanya masalah perkuliahan yang berkaitan dengan quotes tersebut. Aduh ceritanya jadi malu... Hahahaha. Pakai bahasa Inggris aja kali ya (?) -__-v

I ever liked someone long time ago and I maybe too young to understand. I really really want that someone to be the one. But Allah says no. And when I got here, I know that maybe I am re-directed into something better. I met someone who is actually better. My mom said that don’t put 100% of your heart to that one. Because it is still uncertain. Everything could change. We actually don’t know the feeling of each other. Again, we are still too young. My mom also said that just let it flow, if Allah decide to put you both together, you’ll be together. In addition, in Islam there is no medication for two people who are in love except marriage. I think that it’s better to keep the feeling safe until the time comes. There was a quotes, “Anyone can fall in love but only the strong ones will keep it halal


            Sudah sudah wkwk. Cuma selingan aja daripada blognya sepi. Pamit dulu ya mau ngerjain baper. Eits! Baper = bahan perkuliahan. H-5 ujian blok endokrin dan reproduksi. Semangat qaqa qaqa dan silent reader J

Senin, 09 Mei 2016

Aku, Kamu, dan Yogyakarta

Yogyakarta....


Sebuah kota yang sangat terkenal karena kekentalan budaya jawa dan juga keramahan penduduknya. Tidak pernah terpikir sebelumnya untuk membuat tulisan tentang kota yang sangat berkesan ini. Sejak kecil aku sudah berkenalan dengan Yogyakarta. Aku pergi mengunjungi Candi Borobodur, Candi Prambanan, dan beberapa goa di sekitar Yogyakarta. Tidak pernah kuduga bahwa aku akan menghabiskan waktu untuk menimba ilmu medis di kota ini.
Aku tidak pernah mengenal Yogyakarta sampai aku menetap disini. Meskipun tidak bisa dibilang bahwa aku sangat mengenal Yogyakarta, aku cukup tahu beberapa tempat (hahaha) dan beberapa hal tentangnya. Disini aku memulai semuanya dari nol lagi, seperti saat isi bensin. Banyak teman baru yang kudapatkan dan banyak sekali hal bermanfaat yang kuperoleh.
Sesaat aku berpikir bahwa Yogyakarta sama dengan kota-kota yang sempat kusinggahi selama masa remajaku (emang sekarang ga remaja? Zzzz hahaha). Tetapi aku sadar satu hal, bahwa setiap tempat selalu membawa kenangan yang berbeda, tak terkecuali Yogyakarta. Yogyakarta makin berkesan karena ada kamu....iya kamu....hahaha.
Entah momen-momen seperti apa yang akan tersimpan di sistem limbikku, namun aku yakin, Yogyakarta akan selalu mempunyai kesan tersendiri sama seperti kota-kota yang kusinggahi selama ini. Dan yang membuatnya paling berkesan adalah kamu....iya kamu....hahaha.

Tulisan macam apa ini.
Okay, lanjut! Belum belajar tentamen anatomi & medik!

                                                                                       



Senin, 21 Maret 2016

Sayang-sayangku

TUTORIAL 16 <3
                                                     
Hai. Aku baru pulang ngumpul sama tutorial 16. Postingannya bebas aja ya ga usah tegang-tegang banget gitu hahaha. Kita lagi belajar blok kardiovaskuler dan respirasi. Hari ini agenda kita cuma tutorial skenario 4 pertemuan pertama yang membahas tentang perdarahan dan proses penghentiannya. Seru? Tentunya! Kitab kesayangan kita untuk diutarakan waktu tutorial adalah Sherwood dan Tortora. Belakangan penggemar Martini bertambah satu, Kemal. Oiya! Hari ini ulang tahun Adek Syihab. Happy Birthday, Adek! <3

Tutorial 16 adalah kumpulan jomblo idaman, walaupun jomblo kami semua layak kok dijadikan menantu idaman eaaaak. Aamiin, insyaAllah. Kami suka ketawa bersama dan tidak jarang membully satu sama lain, seperti aku.....bukan aku yang membully, tapi aku yang dibully. Well! Hahahaha.

Kemarin waktu tutorial aku mau gambar sesuatu di papan tulis, untuk mencapai papan tulis harus melangkahi kabel-kabel yang dicolok ke laptop Iman yang kebetulan lagi jadi sekretaris tutorial. Aku melangkah dengan pasti, lalu sedetik kemudian aku merasa amnesia dengan apa yang baru saja terjadi. Aku terjatuh dan untung saja kepalaku ngga kebentur papan tulis. Dokter Putry keliatan kuatir, “kamu ngga papa? Kepalanya kena ngga?” “engga, dok..” jawabku. “Jatuh bangun dalam hidup itu biasa..” kata Syifa.

Hari ini mereka kembali membahas kejadian kemarin. “Awas lho nanti kalo mau jelasin pake papan tulis, nanti ada yang jatuh...” Tatapan jahat Kemal mengarah ke aku. Tawa meledak, tak terkecuali aku. Hafidz malah menambahi cerita Kemal, kalau kemarin Iman tidak malah menolongku malah melihat apakah kabelnya ada yang putus atau engga. Semua kembali tertawa terbahak-bahak, tak terkecuali aku.

Membahas tentang Hafidz dan Kemal, mereka memang komplotan yang pas kalau buat ngebully aku. Waktu itu aku sakit, tapi karena lagi jadi ketua tutorial, aku berusaha untuk tetap kuat demi kamu...iya..kamu (sungguh random sekali postingan ini). “Kowe loro to? (Kamu sakit?)” tanya Kemal, aku hanya mengangguk. “Halah, aleman.. (manja)” aku hanya diam saja karena males menanggapi. Sorenya aku menitipkan surat dokter ke Hafidz untuk izin ikut briefing TBMM. “Fidz fidz! Aku nitip ya, izin gak ikut briefing soalnya lagi sakit hehe...” aku menyodorkan selembar kertas surat dokter. “Kamu sakit? Entut!” aku langsung kaget. Sementara Hafidz masih cengar cengir setelah puas bilang “Entut”

Ya Allah, Engkau berikan aku teman seperti dua macam makhluk ini. Temennya sakit malah bukan dibilang “gws” tapi “aleman” dan “entut”. Mereka berdua sangat kompak kalo soal bully membully aku. Well sudah, aku acungi jempol buat kalian berdua. “Nanti kalo udah ngga setutorial kangen lho, Fan diginiin lagi” kata Kemal, “Ho’o, Fan” tambah Hafidz. Aku cuma manggut-manggut.

Iya, jujur aku sedih kalau tahun depan udah ngga satu tutorial lagi sama mereka. They’re like my second family. Together we laugh, together we do dumb things! Hahahaha.

Hmmm...
Coba diimpersonate dulu

Hafidz             : “Nama saya Hafidz Waidz Al Qorni, bisa dipanggil Hafidz, Al...Dodit juga boleh”
Syihab            : “Kalo yang saya baca di Martini itu...”
Zahra              : “Kalo yang kubaca di Sherwood itu.......(blablabla)”
Aul                  : “Semalem aku ketiduraaaan” “Aku baru baca sedikit”
Syifa               : “Aku ada seminar dulu” “Ngopo e?”
Iman               : “He, Rek... Aku itu kemarin (blablabla)”
Tina                : “Ngomongin apa sih?” (keseringan telat join obrolan, baik di grup maupun secara langsung. Hahaha.)
Yevy               : “Kalian mau kubawain mantau kah?” “Aku mau jalan-jalan dulu”
Kemal             : “Halah rapopo..” “Ayo nonton yo besok” (kemudian php)

Random sekali pokoknya mereka. Kalau di grup, kita suka manggil satu sama lain dengan sebutan, “Cinta-cintaku” atau “Sayang” hahahaha. Kasihan. Maklumlah meluapkan hawa-hawa kejombloan masing-masing.

Mungkin kalau dibuat quotes yang sedikit lebih waw gitu, aku bakal bilang, “When I first met you(s). I never thought that you(s) will be this important to me” eaaaaak.

#akusayangkalian


Nantikan kisah selanjutnya!

Rabu, 09 Maret 2016

Berharap Tapi Dikecewakan? Allah Lebih Tahu Mana yang Terbaik

Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan atas kamu pedihnya sebuah pengharapan supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadaNya. [Imam Syafi’i]

Saat kita menyenangi sesuatu akan muncul sebuah harapan sebagai bentuk ekspektasi terhadap apa yang akan terjadi. Harapan membuat kita lebih bersemangat mengerjakan sesuatu karena kita merasa termotivasi. Secara tidak langsung, harapan memberi semangat di dalam pikiran bawah sadar.

Memiliki harapan atau ekspektasi bukanlah hal yang salah, namun tidak semua yang terjadi akan sesuai seperti apa yang kita harapkan. Tidak jarang bahwa hal-hal yang terjadi justru diluar dugaan. Terkadang kita malah merasa putus asa, sedih, dan perasaan yang mungkin paling dominan adalah kecewa. Orang-orang selalu mengatakan bahwa kekecewaan selalu ada di akhir. Aku sering bertanya, mengapa kekecewaan selalu berada di akhir? Menurutku, kekecewaan letaknya di akhir agar kita dapat berusaha mempersiapkan dan memikirkan secara matang sebelum kita melakukan sesuatu dan menaruh harapan disana.

Lalu, apakah salah jika kita sudah berusaha melakukan yang terbaik dan memikirkannya dengan matang namun malah berakhir dengan perasaan kecewa? Tidak! Tidak! Harapan harus selalu ada di setiap hal yang ingin kita wujudkan. Mari kita kaitkan masalah pengharapan dengan salah satu ayat Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 129 “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakal” Salah satu makna yang ku tangkap dari ayat tersebut adalah jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Setelah itu yang bisa kita lakukan hanyalah berdo’a dan tawakal. Apapun hasilnya, Allah lebih tahu mana yang lebih kita butuhkan.

Seringkali kita merasa bahwa seolah-olah Allah salah memutuskan sesuatu hal atas kita, namun kita sering lupa bahwa Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” [QS Al Baqarah: 216]. Jika kita telah memasrahkan diri akan segala hasil yang akan kita terima dan percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita, insyaAllah apapun itu kita akan menerimanya dengan ikhlas. Apabila harapan belum sesuai dengan realita, hendaknya kita jangan terlalu bersedih karena selalu ada hikmah di setiap kejadian. Bisa jadi Allah menginginkan kita mempelajari sesuatu dari kekecewaan tersebut.

Berbicara mengenai harapan memang tidak bisa dipisahkan dari kekecewaan. Awalnya pikiran kita membentuk ekspektasi hingga masuk ke dalam alam bawah sadar seiring dengan kuatnya harapan tersebut. Apa yang terjadi kedepannya masih menjadi misteri. Kekecewaan yang kita rasakan hendaknya jangan hanya membuat kita bersedih dan putus asa, pelajarilah sesuatu dari setiap kejadian. Mungkin, dengan merasakan kekecewaan karena ketidaksesuaikan ekspektasi terhadap sesuatu atau seseorang, kita akhirnya dapat belajar bahwa dikecewakan itu rasanya tidak enak. Kedepannya diharapkan kita akan lebih berhati-hati melakukan sesuatu ataupun memperlakukan orang lain agar tidak menerima kekecewaan yang sama dengan apa yang kita rasakan.


Tetap semangat, berusaha lebih keras, berdo’a lebih khusyu’, dan serahkan semuanya kepada Allah. 

Rabu, 30 Desember 2015

Pelajaran Berharga dari yang Sederhana

Assalamu’alaikum.

Gimana kabarnya, silent readers? Kalau aku mah silent admirer hahaha. Duh jadi baper. Jadi pada postingan kali ini aku ingin berbagi secuil pengalaman pertamaku di Dusun Ngandong Yogyakarta.

Awal mula tercetusnya PoA (Plan of Action) ini saat dimenangkannya divisi Pengembangan Masyarakat saat berakhirnya acara Makrab Carotis 2015. Sebelum berangkat makrab ke Villa Tambi di Dieng, kami dari angkatan 2015 dibagi per divisi yang terdiri dari: Pengembangan Masyakat, Pendidikan dan Profesi, Kastrad, Kewirausahaan, Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa, Eksternal dan Kominfo, dan SeniOr (Seni dan Olahraga). Masing-masing divisi diminta untuk membuat satu PoA yang apabila menang nanti akan diwujudkan bersama-sama.

Ternyata pemenang jatuh kepada divisi PengMas! PoA mereka diberi judul “BETA MELEKAT” yang merupakan singkatan dari Berbagi Ilmu dan Pengetahuan Merajut Pelangi dan Menjadi Lebih Dekat. PoA ini mengharuskan kita untuk berkunjung ke salah satu desa binaan UII dan menginap satu malam dalam rangka sosialisasi. Kami dari angkatan 2015 dibagi menjadi 3-4 orang untuk bermalam di rumah warga setempat dan mensosialisasikan materi tentang kelorisasi, pola hidup sehat, dan keagamaan. Acara ini insyaAllah akan dilaksanakan pada 18-19 Desember 2015. Ini merupakan pengalaman pertama bagiku.

Seusai kuliah histologi tentang mata yang berakhir pukul 15:10, kami langsung bergegas kembali untuk mempersiapkan barang bawaan. Cuaca mulai mendung dan rintik air hujan mulai turun. Sekitar pukul 16:15 kami berangkat menuju ke Dusun Ngandong yang terletak kurang lebih 8 km dari gunung Merapi. Sepanjang jalan menuju dusun terlihat banyak kebun. Jalan yang kami lalui semakin lama semakin terasa menyempit. Kami tiba pukul 17:00 dan disambut dengan hujan yang semakin deras.

Tempat kami berkumpul adalah rumah milik Mbah Hadi. Tak jauh dari rumah, terdapat kandang sapi. Di halaman rumah Mbah Hadi didirikan tenda untuk acara keesokan harinya, yakni senam pagi, jalan sehat, doorprize, dan pelayanan kesehatan gratis. Setelah semua anggota lengkap, kami melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu. Laki-laki pergi ke masjid, sedangkan perempuan sholat di rumah Mbah Hadi. Problem pertama yang kurasakan adalah penerangan saat matahari mulai pergi, daerah sekitar terlihat gelap. Jarak rumah satu dengan yang lain juga tidak bisa dibilang dekat dan rapat karena masih dipisahkan oleh kebun-kebun. Kami menyeberang menuju kamar mandi umum yang letaknya tidak jauh dari rumah Mbah Hadi. Aku bersyukur membawa power bank yang bisa digunakan untuk senter, karena memang kondisi sekitar minim penerangan. Beberapa anak terlihat mengantre panjang dan ternyata air untuk wudhu mati.

Menjelang pukul 19:00, kami mulai menuju rumah warga sambil membawa sembako. Berhubung jarak antar rumah tidak bisa dibilang dekat ditambah minimnya penerangan, kami pergi dengan menggunakan mobil. Beberapa pemuda dusun Ngandong turut menunjukkan jalan. Akhirnya aku, Yevy, Tina dan Wiska tiba di rumah yang akan kami singgahi selama satu malam. Ternyata rumah tersebut merupakan milik Kepala Dukuh. Sambutan yang hangat dan ramah dari Bu Dukuh membuat kami merasa lega, kami langsung ditawari untuk makan malam. Dengan gaya sok menolak, kami meminta untuk tidak usah repot-repot. (Yha, kenapa selalu begini -_-) sebaliknya, perutku yang kosong sejak pukul 10 pagi makin menjadi. Bunyi “dung-dung” semakin nyaring menandakan bahwa dia butuh makan.

Akhirnya kami mulai mensosialisasikan materi, tentunya harus diselingi dengan obrolan-obrolan agar tidak terlalu kaku. Dari cerita Bu Dukuh, ada beberapa hal yang membuat alisku naik. Warga dusun baru-baru ini mendapat kemudahan sumber air karena dibangun pipa dari sumber mata air di dekat tebing yang kemudian dialirkan menuju rumah-rumah. Tahukan siapa yang membantu mereka membuat pipa? Orang asing. Hal ini membuat kami semakin penasaran, “Lho, pemerintahnya bagaimana, bu?”

Tinggal di lereng gunung merapi tentu membuat kami berempat penasaran bagaimana kondisi dusun ini saat bencana tersebut melanda. “Iya, mbak, tandanya kalau mau meletus itu hewan-hewan di atas pada turun terus hawanya panas.” Jelas Bu Dukuh. Beliau melanjutkan ceritanya tentang pengungsian selama tiga bulan di GOR Sleman. Pasca bencana berlalu, kondisi dusun baru bisa normal dalam satu tahun. “Satu tahun?” cengangku. Waktu yang sangat lama. Selama di pengungsian Bu Dukuh bercerita kurangnya fasilitas WC.

Selanjutnya aku menyimpulkan bahwa warga dusun belum mengetahui tentang pola makan sehat, mungkin sebagian masyarakat Indonesia juga begitu. Teringat tentang salah satu acara di TV, piramida makanan masyarakat Indonesia terbalik dengan Australia. Orang Indonesia menempatkan karbohidrat di puncak, sedangkan Australia menempatkan buah dan sayur di puncak. Fenomena yang sudah sering kita lihat adalah makan mie dengan nasi, dua bahan makanan yang sama-sama berfungsi sebagai penghasil energi utama alias karbohidrat. Hal ini tidak boleh terus dibiarkan, perlu adanya edukasi lebih lanjut tentang pola makan yang sehat.

Keesokan harinya, aku dan Tina berangkat terlebih dahulu menuju rumah Mbah Hadi karena kami berdua merupakan panitia pelayanan kesehatan. Kami dihimbau untuk turut mengajak warga mengikuti acara ini. Sebelum berangkat, Bu Dukuh membuatkan mie instan untuk sarapan kami. Aku membantu beliau sementara ketiga temanku sedang antre kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. “Tak bikinkan teh ya, mbak?” “Ibu.. ngga usah repot-repot, air putih aja” balasku. “Nggak ada i, mbak. Harus masak air dulu. Oh iya, kemarin nggak boleh minum teh ya..” “Iya, setengah jam sebelum makan dan sesudah makan hehe” aku melemparkan senyuman (?). Persediaan air mineral saja belum ada dan sehari-hari minum teh sebagai “air putih” mereka...

Aku dan Tina berpamitan pada Bu Dukuh dan Pak Dukuh. Pagi yang mendung disertai hujan rintik-rintik membuatku harus membuka payung. Di jalan kami berjumpa dengan salah satu warga yang ingin mengikuti kegiatan pagi ini. Di sepanjang jalan tak jarang dijumpai anjing yang berkeliaran karena memang tidak semua penduduk beragama islam. Akhirnya kami sampai di rumah Mbah Hadi, tak lama kemudian warga mulai berdatangan. Acara pertama adalah senam pagi yang dipimpin oleh Muham, Kemal, Ivan, Faiz, dan Fairuz. Senyuman tak bisa kubendung melihat adek kecil yang unyu-unyu mengambil barisan paling depan, beberapa sesepuh juga turut serta. Seusai senam, warga disuguhi bubur kacang ijo dan susu. Sementara panitia YanKes semakin sibuk mempersiapkan rumah Mbah Hadi sebagai tempat pelayanan kesehatan gratis. Aku memilih menjadi asisten dokter, sementara Tina menjadi apoteker.

Antusiasme Warga Mengikuti Senam Pagi
                        

Instruktur Otodidak
               

Pelayanan kesehatan dimulai pukul 08:45, aku dan Aul menjadi asisten dokter Dimas. “Nanti yang kalian lihat ini bukan contoh komunikasi yang efektif, ya..” kata dokter Dimas. “Karena harus cepet-cepet, yang datang banyak.” Pasien pertama pun masuk, dengan ramah dan cekatan, dokter Dimas meladeni setiap orang. Aku tertegun saat dokter Dimas berkata, “Dek, ini tolong bapaknya ditensi lagi...” “Maaf dok, saya belum bisa nensi..” “Oh yasudah ngga papa...nggih, pak, ben manteb kulo mawon nggih” aku merasa malu.

Sementara itu Nesti berjaga diluar memanggil pasien-pasien yang mulai tidak sabar ingin segera berjumpa dengan dokter (cieee...). Aku membantunya di front desk, sementara Aul membantu dokter Dimas di dalam. Tak terasa waktu sudah mendekati pukul 11, sudah dua jam aku berdiri disini, memanggil nama pasien dari kertas anamnesis sembari mengucap “Sekedap malih nggih...” atau “Monggo” dan “Teng mriki” dengan logat bahasa jawaku yang mulai aneh. Beberapa kali dari bagian apoteker menginformasikan ke asisten dokter bahwa ada stok obat yang habis.  Tak lama kemudian Nesti tumbang dan tinggalah aku sendirian. Ternyata begini rasanya bekerja melayani masyarakat.......... Aku tahu lelahku tak sebanding dengan dokter Dimas dan dokter Alyda, tapi sungguh bahagia bisa menolong orang lain.

Tim Pelayanan Kesehatan Bagian Obat
                      

Pasien yang Sedang Konsultasi dengan dr Dimas
               

Acara dilanjutkan dengan penutupan dan kembali ke rumah warga masing-masing untuk menyerahkan bibit kelor sekaligus berpamitan. Bu Dukuh telihat sedih saat kami berpamitan, tak hentinya beliau mengucapkan doa agar kuliah kami sukses dan dimudahkan. Akhirnya kami kembali menuju rumah Mbah Hadi untuk makan bersama dan pulang. Bus demi bus datang untuk menjemput kami. Tinggalah rombonganku yang naik mobil Wiska dan beberapa anak laki-laki yang rela menunggu bus karena mendahulukan perempuan (ihiy). Untuk mengisi ke-gabut-an sesaat, aku mengajak Yevy dan Tina untuk foto loncat. “Alay...” komentar Kemal. “Aku ikut...” dia melanjutkan. Akhirnya kami berpose dan melompat beberapa kali demi mendapatkan foto yang apik. Terima kasih Muham yang rela memfotokan kami walaupun sedikit maksa! Hehe =))

This is the first time. Membuatku lebih membuka mata melihat kondisi sekitar dan menghayati peran seorang dokter yang salah satunya sebagai community leader untuk membawa sebuah lingkungan menjadi lebih sehat.


I’m a doctor. I’m a leader. Be gold. Be bold. Take action with your passion!” (Yel-yel LKMM 2015)

Foto: Pubdok BETA MELEKAT 2015