Minggu, 28 Desember 2014

Tous Les Jours

“Mam, ayo ke tous les jours..” kataku mulai ngga sabar. “Ayo ayo.” Jawab mama yang matanya masih melirik kearah sepatu-sepatu itu. Beberapa langkah mendekati tous les jours entah kenapa jantungku makin berdegup kencang. Seolah-olah aku akan bertemu langsung dengan brand ambassadornya. Oh iya, alasanku ke tous les jours ngga lain dan ngga bukan adalah untuk melihat brand ambassadornya. Siapakah dia?


Mau dong jadi gelas sama pengaduk adonannya <3 (?)


Flashback beberapa bulan lalu waktu aku, Osa, Dea jalan-jalan ke kota kasablanka. Aku yang baru pertama kali kesini takjub gede banget ini mal (maaf katrok -_-v). Awal mula kita ke kyochon, restoran korea gitu yang brand ambassadornya Lee Min Ho (kesukaan dea nih). Setelah puas makan di kyochon, dea pulang ngebungkus dan dapet tas Lee Min Ho sama posternya. Masuk ke restoran ini semuanya serba Lee Min Ho, kertas alas piringnya Lee Min Ho. Ada TV yang muterin tentang Lee Min Ho. Memang Lee Min Ho ada dimana-mana. Lalu kita sholat dan main ke paper clip. Osa lagi ribet sendiri karena dia mau dijemput buat ke tempat kos kakaknya, aku sama Dea bingung kita mau pulang naik apa. Akhirnya kita mampir ke tous les jours. Aku milih roti yang biasa kumakan, muffin coklat sama roti ada sosisnya gitu. “Fan!!!!” kata Dea setengah syok menunjuk ke tempat pemutaran video. “Oh M G.”

Kembali ke cerita tadi. Dengan noraknya aku masuk ke dalam tous les jours sambil menggandeng tangan mama. Di meja kasirnya terpampang dua poster brand ambassadornya yang sangat tampan. Aku mencari-cari tempat pemutaran video toko roti ini dan ternyata diletakkan di bagian atas. Videonya sama seperti yang kulihat di instagram beberapa hari yang lalu (karena keasyikan sampe kuotaku habis sebelum waktunya, ini pertama kalinya). Video bertema natal dan tahun baru ini bercerita kurang lebih begini: si brand ambassador bingung milih baju atasan yang mana. Setelah milih dia langsung ke dapur untuk bikin kue. Kokinya aja cakep banget ya. Lalu setelah itu berpindah ke video dimana si brand ambassador mengelilingi pohon natal bersama beberapa anak kecil. Suasana terlihat begitu ceria dan dia menggendong satu anak untuk meletakkan bintang di pucuk pohon natal. “Ani mau jadi anak kecilnyaaaa.” Kataku histeris. Lalu salju pun mulai turun dan dia terlihat menikmati salju yang menempel di sweater merahnya. “Ani mau jadi saljunya ajaaaa.” Kemudian si brand ambassador tertawa bersama anak-anak kecil dengan senyum memikat yang mempesona. Aku benar-benar tidak mengedipkan mata. Video ini dibuat dengan sangat sempurna. Eh atau brand ambassadornya? Hehehe. Setiap untaian kata, senyuman diatur begitu proporsional sehingga membuatku makin terpesona. Di akhir video, dia memegang beberapa tumpuk kado seolah ingin memberikan kepada yang menontonnya. “Ani mau jadi kadonyaaaa… aaaaaaaa” lanjutku mulai merengek seperti anak kecil. “Hush hushhh diliatin ibu-ibu itu ngga malu?” kata mama yang tampaknya mulai malu sama kelakuanku yang super absurd. Aku melirik ke arah ibu-ibu itu dan tetap saja ngga peduli. “Jadi mau beli apa ini?” tanya mama. “Ngga tau. Ani kesini cuma mau liat dia.” Rengekku. “Kalau beli dapet poster nggak ya?” lanjutku. Kebetulan saat itu ada pembeli dan aku melihat dia hanya mendapat rotinya saja (hahaha). Aku mulai kecewa. “Mam, tanyain dong ke mbaknya kalau beli dapet apa.” “Tanya sendirilah..” jawab mama. “Ani maluuu. Mama yang tanya nanti ani pergi dulu ya.” Kataku makin songong. Hening. Kemudian mama mengimajinasikan percakapan yang akan terjadi:
Aku     : Mbak, bonus akhir tahun apa?
Mbak  : Adek maunya apa?
Aku langsung menyahuti imajinasi mama dengan:
Aku     : Saya mau brand ambassadornya aja mbaaak!!! Kataku mulai lagi. Sebenernya aku masih betah disana buat liat si brand ambassador yang keche parah. Akhirnya aku sadar kalau aku konyol dan bilang, “Ayo, mama tadi mau kemana? Ke Ace Hardware?” kebetulan Ace Hardware terletak 1 lantai diatas toko roti itu. Aku ngga bisa bohong kalau pikiranku masih di sana. Setelah puas keliling Ace Hardware aku dan mama mampir ke scoop dan paperclip. Keabrsudanku ngga berhenti disitu, dari lantai atas aku mematai-matai setiap pembeli apakah dapet poster atau engga, ternyata engga. Kecewa L Destinasi berakhir (lagi) di tous les jours. Aku kembali merengek-rengek kayak anak kecil dan dengan sabarnya mama selalu nyahutin rengekanku yang tingkat kekonyolannya makin ngga bisa ditoleransi. Setelah puas liat brand ambassadornya (lagi), dengan berat hati akhirnya aku bilang, “Ayo pulang.” Kami pun berjalan ke arah pintu keluar.

Di tengah perjalanan mama malah memancing ngomongin si BA. “Dia tinggi banget ya. Duduk aja badannya masih kelihatan gitu. Kalau kita paling cuman segini.” (ngomongin poster di deket kasir) “Iya, mam, 180 dia.” Kataku bangga “Mantu mama nanti kayak gitu ya…” Aku terdiam. Hanya bisa berkata, “Aamiin aamiin. Itu calon mantu mama..” kataku mulai gila lagi. Mama masih membayangkan dan mengobrol tentang kriteria mantunya. “Tinggi, karirnya bagus, smart….” Aku memotong cerita mama, “Dia tinggi. Dia karirnya bagus itu mam…” mataku mengeskpresikan kekaguman pada si BA. Mama kemudian melanjutkan, “Seiman… dia ngga seiman kan? Berarti bukan calon imam.” “Nanti dia jadi mualaf mam..” kataku ngeyel parah.


Rabu, 24 Desember 2014

There's Just A Little Difference Between Being A Fangirl and Falling in Love

Apa yang pertama kali kita pikirkan saat mendengar kata “Fangirl”?
Fangirl itu terdiri dari dua kata, fan (penggemar) dan girl (perempuan/cewek/gadis). Jadi fangirl adalah fans perempuan. Nah ada lagi istilah fangirling, kalau ditambah “ing” berarti aktivitas yang dilakukan sama fangirl itu. Contoh: ada seorang fangirl yang mengetahui penyanyi kesukaannya akan menggelar konser di negaranya. Si fangirl buru-buru beli tiket karena takut kehabisan. Tibalah hari dimana konser diadakan. Dengan segenap jiwa dan naluri seorang fangirl dia akan berusaha tampil se-khas mungkin untuk menunjukkan bahwa dia adalah fans (tingkat menengah ke parah) si penyanyi itu. Berbagai atribut pun disiapkan, dari mulai baju yang akan dia pakai. Biasanya baju bergambar atau bertuliskan hal yang berkaitan dengan penyanyi itu. Selain itu ada juga yang menyiapkan banner berharap akan dibaca. Masih banyak atribut-atribut lain seperti lightstick, bando, dan masih banyak lagi yang unik-unik. Fangirling itu beda tipis dengan jatuh cinta. Menjadi seorang fangirl bisa dibilang jatuh cinta secara terang-terangan tanpa harus khawatir soal tanggapan orang lain dan tanggapan orang yang kita suka.

Jadi fangirl adalah hal yang menyenangkan. Setidaknya begitu yang kurasakan selama kurang lebih 6 tahun menjalani hidup sebagai fangirl. Aku jadi termotivasi untuk menjalani sesuatu. Mungkin juga ini disebabkan karena aktivitas otak yang lagi “jatuh cinta” dan membuat kita lebih bersemangat. Nggak jauh beda saat kita jatuh cinta sama seseorang di kehidupan nyata. Semua yang dilakukan rasanya lebih berarti dan kita makin bersemangat melakukan hal-hal yang biasanya biasa-biasa aja. Iya kan? Contoh motivasi ini saat aku pengen banget ketemu Westlife dan malu banget seandainya nggak bisa bahasa Inggris di depan mereka. Nah sekarang tinggal gimana caranya bisa fasih bahasa Inggris dalam kurun waktu beberapa bulan. Hahaha padahal belum tentu dapet meet and greet udah siap-siap aja. Akhirnya persiapannya udah cukup, bahasa Inggrisku mulai mendingan dibanding dulu yang masih suka salah grammar dan keliatan pas-pasan banget. Walaupun akhirnya aku belum dapet kesempatan meet and greet sama mereka, tapi setidaknya aku dapet hal positif dimana bahasa Inggrisku mulai membaik. Selain bahasa Inggris aku jadi belajar menabung, aku beli tiket Westlife dengan uangku sendiri yang berhasil kukumpulkan selama setahun. Jualan pulsa, jajan dikurangin rela aku lakukan demi nabung buat beli tiket konser yang sudah lama kunantikan. Aku juga iseng buka tiket pesawat dan mengira-ngira cukup nggak uangku buat beli tiket konser plus tiket pesawat ke Jakarta. Temen-temenku mungkin berpikir kalau aku terlalu gila dan fanatik sama boyband satu ini, tapi kenyataannya memang iya. Beberapa dari mereka sempet ngga percaya kalau aku bakal ke Jakarta dan bolos sekolah demi Westlife. Padahal itu seminggu sebelum UTS. Nekat! Nonton konser tentunya nggak asyik sendirian kan? Nah karena fangirling juga aku punya banyaaaak temen baru. Kita nonton konser bareng, kadang gathering dan hang out bareng.   

Kelihatannya menyenangkan ya jadi fangirl? Yep! Tapi kembali ada suka ada duka. Dukanya jadi fangirl juga lumayan lho. Contohnya: seorang fangirl baru saja menonton konser penyanyi kesukaannya untuk pertama kalinya. Selang dua minggu kemudian, penyanyi itu mengumumkan bahwa dia akan berhenti. *hening* rasanya nggak sanggup. Selama ini si fangirl sudah begitu semangat menantikan album baru, tour, DVD, merchandise, dan segala berita tentang penyanyi itu dan tiba-tiba semuanya dihentikan? Di kehidupan nyata ini rasanya kayak ditinggalin pacar. Semua kenangan masih tersisa namun si pemberi kenangan hanya tinggal asa. Ada juga dimana saat seorang fangirl merasa cemburu berat saat artis kesukaannya pacaran/ menikah. Rasanya kayak, “Kenapa bukan aku? Kenapa harus dia?” dramatis sekali ilustrasinya. Hahahaha. Ini mungkin juga karena jadi fangirl suka mengklaim kalo orang yang kita fangirl-in adalah pacar/gebetan/suami dan lain-lain. “Kim Soo Hyun itu pacarku, titik.” Kita harus belajar menerima bahwa dunia kita dan si artis memang berbeda. Mereka artis dan pasangannya pasti sesama artis (walaupun ngga semua artis begitu). Kecemburuan ini kadang berlanjut. Kim Soo Hyun nyebut wanita idamannya adalah aktris dari Inggris, Kaya Scodelario. Mereka sempat menjalani photoshoot bareng untuk salah satu produk. Fotonya mesra banget, rasanya kalau liat itu tiba-tiba ada backsound lagunya cita citata dicampur lagu the last timenya Taylor Swift. Nanonanonano rame rasanya! Kaya memang cantik banget. Tapi mau cemburu kayak apapun, who the hell cares? We’re only fans. We’re just admirer.

Dan ngga berhenti sampai disitu, karena fangirl adalah seorang wanita dan wanita umumnya emosional. Nggak jarang suka ngiri satu sama lain. Kalau ada yang dibales tweetnya atau bisa foto bareng dan dapet kesempatan meet and greet sukanya jealous-jealous-an. Tentu tanggapan masing-masing orang berbeda. Ada yang, “Yaudahlah, mungkin belum rejeki.” Ada yang, “Ih kok dia bisa dapet sih? Dia ngapain emang sampe bisa dapet gituan?” atau “Ini ngga adil!!!!!!” (sambil nangis meraung-raung di depan kaca) ß hanya ilustrasi. Jadi, ketahuilan jadi fans itu bukanlah hal yang gampang. Kita itu sama halnya dengan orang yang dimabuk cinta. Kita merasakan suka, cemburu, deg-degan, khawatir, dan perasaan-perasaan lainnya. Makanya maklumi kami saat kami suka mengupdate status dan membicarakan artis kesukaan kami. Karena itulah bagian dari “show up” kami. Buat fangirl yang selama ini unek-uneknya sama, jangan lupa recommend di masing-masing socmedmu ya! Sekalian promosiin blog ini. Huehuehue.

One thing that I learned from being a fangirl is: Being a fangirl is better than loving someone secretly. We don’t need to be shy and hide our love feelings because we can ‘safely’ show it even in public. No need to worry too about what will their reaction be like. I still can love. He/they still love me as a fan. J


Selasa, 16 Desember 2014

No Title Needed






*tarik napas dulu*
*duduk di kursi perpustakaan pribadi ala Do Min Joon*
Sekarang aku ngerasa kayak jadi Chun Song Yi di episode 10 ke atas.
Dan ini memuncak kala sore menjelang.
Sebenernya aku kemakan omongan sendiri, “Aku ngga suka cowok imut”
Aku masih bisa ingat dengan jelas kalau aku ngomong gitu, waktu SMP kalau ngga salah.
Dan sekarang….?
APA INI? Iya kamu iya!



Iya, oppa. Kamu.



Dia imut sekali. Imutnya bukan imut umum. Imut campur menggemaskan. Menggemaskannya bukan menggemaskan umum. Tapi cakep dan charming. Cakep dan charmingnya bukan seperti biasanya. Susah kan kalau lagi in love seolah-olah terasa ngga cukup diungkapkan sama kata-kata. I’m going speechless now. Mencoba cerita dan ngajak fangirling Osa, Dea, Wida. Mereka punya tanggepan unik. Dea: ngga bales bbm. Osa: bales kadang-kadang. Wida: bales tapi bilang kalau aku telat. Aku ngga ngerti aku harus fangirling sama siapa. Yukaris? Aku sempet vakum dulu dari dunia fangirl yukaris (gayanyaaa wkwkwk). Aku buka instagram dan liat video iklan Tous Les Jours Kim Soo Hyun khusus natal. Yaampun oppa aku menantikan saat kita berbagi ketupat dan opor ayam bersama. Dan terakhir kali aku bbm dea, “DEAA TRAKTIR AKU TOUS LES JOURS!!!! Ada oppa ada oppaaaa.” Dia bales apa? So sweet sekali: “O -_-“ Tapi ada satu orang yang nanggepin cukup panjang, Ofi. Makasi ya, neng. Kau mengerti kondisi jiwa dan pikiranku karena ini. (?)



Aku sempat vakum. Dan kenapa bisa kembali lagi? Karena aku ngga ingin fansku kecewa. ß ini kata-kata seharusnya diucapkan sama Westlife kalo comeback nanti :D

Hari itu hari selasa. Sehari selepas ujian akhir semester selesai. Seperti biasa, kita ngga ngapai-ngapain. Dan aku juga bingung mau ngapain. Ngga boleh pulang dan harus stuck. Aku liat Risda sama Tera lagi nonton sesuatu di laptop. Aku join dengan gaya sksd. Itu drama You Who Came From The Star episode 8. “Halah ngga papa, ngga bakal kecanduan kok. Dramanya kan katanya ngayal.” Batinku sambil terus menonton. “Ih kenapa dia rambutnya harus kayak gitu sih? Alay.” Komenku sembarangan. Hening. Lama kelamaan…. Apa ini….. apa ini….. dan akhirnya aku kembali kecanduan. Cinta lama pun bersemi kembali di musim hujan. Episode demi episode terlewati dan aku makin ngga sabar pengen tau lanjutannya. Aku tiba-tiba ngerasa ngga pengen jam pulang sekolah. Hahahaha.

Dari jaman pertama kali liat The Moon That Embraces The Sun udah ngerasa pilu setiap liat dia nangis. Mama aja ngakuin dia actingnya bagus banget kalau nangis. Jangankan acting, nangis biasa aja waktu fanmeeting di Jakarta udah bikin terharu. Yaampun oppa!!!


Aku malu sebenernya nulis ginian. Kayak ngga berarti apa-apa ya? Tapi aku suka Kim Soo Hyun. Mungkin suatu saat nanti waktu aku liat tulisan ini, aku bakal ngetawain diri sendiri saking alaynya. Hapus? Hm gimana ya? Alay itu memalukan tapi sayang kalau ngga dikenang. Itulah masa menuju pendewasaan, kata Raditya Dika. Terima kasih sudah mengerti (bukan terima kasih sudah membaca).  

Kamis, 11 Desember 2014

Demam Drama Korea

Halo semuanya! Maaf sudah vakum beberapa bulan dari dunia blogging. Kangen juga lama-lama ngga nge-blog. Disis lain juga ngga ada inspirasi buat nulis. Dan diliat-liat juga cukup disibukkan sama banyak tugas dan ulangan. Okay! Jangan bahas itu lebih jauh ya. Pasti pada kepo kan mau bahas apa? Dari judulnya udah keliatan sih hehe.

Aku pertama kali suka drama korea waktu SD kelas 2. Dan drama korea yang beruntung itu adalah……….Jewel In The Palace. Berkisah tetang seorang dayang istana yang selalu ingin disingkirkan sama pesaingnya hingga ia beralih profesi jadi perawat selanjutnya dia naik pangkat jadi dokter pribadi raja. Drama ini terdiri dari 70 episode, cuman ngga ada sedikit pun episode yang boring. Peran masing-masing juga jelas. Jadi, nggak masalah sebanyak apa episodenya. Ceritanya tetep seru! Drama korea kedua yang ku tonton jatuh pada……..Boys Before Flowers! Atau BBF. Ya pada tau kan drama ini ada 4 cogan tajir gitu. Aku nonton ini juga gara-gara Petra bawa DVDnya ke sekolah waktu kelas 7 dulu. Bahasaku agak gaul dikit ya akhir-akhir ini. Apa ini pertanda? Kalau aku mulai membaur sama Jakarta (?) Lalu berlanjut ke My Fair Lady, The Great Queen Seondeok, Dong Yi, The Moon That Embraces The Sun, dan setelah vakum akhirnya nonton drama baru berjudul You Who Came From The Stars.

Sudah 2 tahun sejak aku nonton drama korea terakhir, The Moon That Embraces The Sun. Awal nonton di indosiar iseng. Karena dramanya kolosal aku tertarik. Mungkin sebagian nanya kenapa drama kolosal? Bukannya ceritanya aneh? Ngga sama sekali. Menurutku ini ceritanya halus banget dan ngga kuno. Seringkali drama korea kolosal episodenya banyak. Kayak Dong Yi itu ada 60-an episode. Tapi aku enjoy aja nontonnya karena memang seru.

Flashback saat aku dan mama lagi liburan di rumah Malang dan kami ngga ada rencana kemana-mana. Setelah beli DVD The Moon That Embraces The Sun di Matos akhirnya aku dan mama nobar. Tau ngga rasanya nonton drama korea? Kalo episodenya habis selalu pengen lanjut terus sampai ending. Aku pengen nangis saking perihnya mataku liat ke TV terus. Aku sama Mama cuma berhenti waktu sholat dan makan. Kadang lupa kalo Papa belum dibikinin makan. Terhanyut drama korea. Oh iya, Mamaku itu bukan tipe yang terlalu bawa perasaan banget kalo nonton film atau drama. Karena Mama membayangkan skenario film dan bermindset kalau itu hanya sebatas akting. Okay, itu yang selalu Mama bilang. Aku tiduran di kursi panjang sambil menatap TV dengan serius sementara Mama juga tiduran di kursi seberang meja. Akhirnya sudah sampai episode 5 dimana Yeon Woo-nya udah kritis antara hidup dan mati. Si bapaknya Yeon Woo udah frustasi banget dan ngerasa bersalah. Ditengah keheningan penghayatan adegan yang lagi sedih-sedihnya ini, terdengar suara isak tangis. Aku yang mulai mengantuk langsung penasaran. Darimana asal suara ini?  Ternyata Mama lagi nangis dan ngelap air mata sambil buka kacamata. Suer, ini pertama kali aku liat Mama nangis nonton film yang cuma fiksi. Aku ketawain. Hahahahaha. Nobar DVD ini ga tanggung-tanggung dari pagi sampe jam setengah 12 malem. Maklum ya kalo udah kepo ya kaya gini mau diapain lagi.

Di drama ini aku juga menemukan crush baru. Si Raja ganteng alias Kim Soo Hyun. Muka imutnya aduhduddduddduuuhhh. (meleleh duluan)

Akhirnya aku berpindah dari Minoz (fans Lee Min Ho) ke Kim Soo Hyun oppa (sok imut pake oppa). Tahun 2013 (kalau ngga salah) dia sempet rilis film The Thieves tapi aku ngga nonton. Nah akhirnya dia main drama baru, You Who Came From The Stars. Berperan sebagai alien (ter)ganteng(yang pernah ada) yang hidup di bumi udah 400 tahun. Aku telat ya taunya. Ya gitu kata Wida sih. “Nikmati aja itu dia disitu gantengnya berlebihan.” Balas wida di whatsapp. OH M G itu bukan berlebihan. Itu sudah keterlaluan T____T dari segi cerita memang drama dia ini ngayal. Mana ada alien ganteng begitu. Dan ceritanya dia udah gonta ganti profesi selama 400 tahun tinggal di bumi. Sekarang dia lagi jadi professor. Yaampun tiap liat scene dia ngajar rasanya kayak pengen punya guru seperti itu. Perfect. Ga bakal bosen. Hahahaha. Iya tapi salah fokus jadinya. Karena kepo nggak keruan akhirnya aku baca sinopsisnya aja dari episode 16 sampe 21. Disini nanti ceritanya si Do Min Joon (Kim Soo Hyun) harus balik ke planetnya dan pisah sama Cheon Song Yi. Yaampun aku sedih abis mereka baru jadian dan harus pisah. Aku sampe pengen nangis bacanya. Kenapa penulisnya setega ini?!!?!?!! (?) Namun mungkin dikarenakan LDR antar kota dan negara sudah terlalu mainstream, akhirnya ini LDR antar planet. Nggak deng hehehe. Do Min Joon berhasil teleportasi ke bumi lagi selama 2 tahun dan bisa nemenin Song Yi. Akhir yang bahagia. Ngga kerasa udah jam 11 malem. Dan aku mulai berkhayal, “mungkin ngga jodohku alien?” bhak! Udah jangan dibully ya. Korban drama korea ya begini ini. Hm Soo Hyun oppa…

            Fyi, aku sebenernya ngga berani nonton drama korea lagi takut kalo kecanduan udah akut banget nggak kenal waktu. Apalagi sekarang udah kelas 12. Terhanyut dikit bisa bablas. Tapi semua luluh….luluh…seiring penampakan alien ganteng. Tulisanku kayak orang mabok aja ya. Sudahi dulu ya. Bye



Mana ada alien seganteng ini?!?

Jumat, 19 September 2014

Q&A-ing Myself Part 3

Postingan Question and Answering Myself ini lama-lama mirip ask fm yang nanya aku sendiri yang jawab juga aku sendiri. Okay kita mulai aja yuk

Lagu apa yang lagi kamu dengerin sekarang?
Taylor Swift – Shake It Off

Coba nyanyiin reffnya dong :3
Cause the players gonna play, play, play, play, play
And the haters gonna hate, hate, hate, hate, hate
Baby I’m just gonna shake, shake, shake, shake, shake
I shake it off, I shake it off
Udah ya satu bait aja..

Gimana rasanya jadi kelas 3 SMA?
Kadang masih susah gitu percaya kalau udah di penghujung wajib belajar 12 tahun. Rasanya dulu pas SMP udah gede banget, sekarang liat anak SMP kayaknya masih polos dan kecil wkwkwk. Aku diem-diem kalo lagi les suka merhatiin anak SMP, “yaampun muka mereka polos-polos sekali..” pikirku. Kemudian aku teringat masa SMPku. “Apa mukaku dulu sepolos itu?” Jadi kelas 3 ini asyik.

Asyik?
Iya

Yakin?
Iyaaa

Kok bisa?
Karena sebentar lagi kita akan jadi mahasiswa. Weekendku nggak lagi nganggur ngemall atau jalan-jalan, tapi dipake ngerjain PR, ikut tambahan sabcer, nyicil buat ulangan minggu depan. Aku sibuk. Dan menurutku itu keren. Kadang capek juga, tapi gatau kenapa aku masih merasa kalau ini keren.

Pelajaran apa yang paling kamu tunggu-tunggu di sekolah?
Agama Islam. Gurunya enak banget. Jadi ngga sabar menunggu hari Rabu setiap minggunya.

Pernah nggak sih kepikir pengen merubah sesuatu di sistem pendidikan Indonesia?
Selalu.

Okay, kalau kamu diberi wewenang merubah sistem pendidikan Indonesia, apa yang bakal kamu lakukan?
Dari dasar, aku akan merubah cara belajar yang selama ini murid duduk manis. Atau di kurikulum baru ini jadi guru yang duduk manis mendengarkan murid presentasi. Nah, menurutku ini kurang efektif. Nggak terjadi komunikasi 2 arah. Belajar yang enak adalah saling sharing. Nggak ada namanya anak murid kesayangan dan yang nggak disayang. Menurutku setiap guru ngga boleh membeda-bedakan muridnya. Semua harus adil. Boleh punya murid andalan tapi jalan terus-terusan di’sayang-sayang’ nanti bisa menimbulkan kecemburuan terhadap murid-murid yang lain. Terus, setelah cara mengajar yang diperbaiki selanjutnya mari cuss ke dampak positifnya. Murid ngerti pelajarannya. Selama ini kadang kita cuek sama pelajaran di sekolah, karena kita beranggapan kurang jelas dan mungkin lebih jelas apabila diterangkan oleh guru bimbel. Aku pernah denger temen les ngomong, “di sekolah ini rasanya cuma numpang nyetor nilai, belajarnya ya di tempat les.” Aku setuju banget. Setiap aku nggak ngerti pelajaran, aku pasti akan simpen buat ditanyakan ke guru les, dan jarang ke guru sekolah. Dari sudut pandangku ini (dan mungkin anak-anak lain juga) aku menyimpulkan kalau nggak selamanya murid itu salah. Murid nggak bisa? Murid yang salah. Bukan, coba cek kembali bagaimana cara guru mengajar agar membuat muridnya memahami apa yang dia ajarkan. Kadang aku sebel sebagai murid dipersalahkan secara sepihak (-_-)V. Sebenernya masih banyak yang lain sih. Nanti kapan-kapan aja ya kalau ada kesempatan aku post soal pendidikan di Indonesia.

Oh iya! Ngomongin soal cita-cita, ada nggak sih cita-cita yang lain selain jadi dokter?
Hmmm ada. Dulu aku pengen jadi guru. Terus berubah jadi dokter. Terus berubah lagi mau jadi jurnalis. Terus berubah lagi mau jadi ahli bahasa Inggris. Terus berubah lagi mau jadi psikolog. Lalu kembalilah ke dokter.

Semangat! Kalau kedokteran mau ambil spesialis apa nih?
Awalnya aku mau ambil kandungan, lalu kemudian aku membayangkan betapa syok dan paniknya aku nanti pas ada ibu-ibu njerit melahirkan. Dan aku punya interest lain, aku pengen jadi ahli bedah tulang. Tapi papa menyarankan aku jadi ahli penyakit dalam. Lihat sajalah nanti ok! J

Pernah nggak pengen punya keahlian untuk job lain?
Yep. Kalo bisa aku pengen jadi arsitek. Arsitek adalah salah satu pekerjaan yang keren, menurutku. Sayangnya aku payah dalam menggambar hehehe.

Pernah nggak terbesit pengen jadi ilmuwan?
Emmm pernah sih, tapi aku bukan tipe orang yang kepo kepo banget.. mungkin aku paling banter jadi peneliti

Pekerjaan paling mulia menurutmu?
Guru

Kalau kamu di bidang sosial, kamu mau bekerja jadi apa?
Gini, aku payah ekonomi dan nggak tertarik sama sekali sama yang namanya ekonomi apalagi akuntansi. Jadi mungkin aku akan milih jadi sosiolog atau psikolog. Yang pasti juga ngga di bidang politik dan hukum.

Pernah nggak punya keinginan pengen melanjutkan study ke luar negri?
Ke luar negri maksudnya bukan swasta kan? Hehehe. Iya, aku pengen ke Inggris atau Finlandia.

Menurutmu tolok ukur sukses itu apa?
Aku belum tau.

Akhirnya sampailah kita dipenghujung tanya jawab ini. Postkan satu quote dengan tema pendidikan!
“Belajarlah seperti Tuhan tidak akan membantu kalau Anda tidak pandai, tapi berdoalah seperti kepandaian Anda tidak akan membantu.” (Mario Teguh)



Jumat, 29 Agustus 2014

Tips Belajar Bahasa Inggris

Ada yang merasa kesulitan belajar bahasa Inggris? Selalu ada. Dan apakah akan kita biarkan itu terus menjadi sulit? Jangan. Kali ini aku mau share tips-tips belajar bahasa Inggris ala diriku sendiri dari mulai SD sampe di tahun terakhir SMAku ini.

1.   Sukai bahasa Inggris
Hal paling mendasar dari mempelajari sesuatu adalah mau ngga mau kita harus suka dengan sesuatu itu. Kalau kita suka kita pasti akan melakukan hal apapun untuk bisa menguasainya. Yakan? Okay.

2.   Tanamkan di pikiran “Bahasa Inggris itu mudah”
Nah atur mindset kita, jangan awal-awal sudah menanamkan kalo bahasa Inggris itu susah. Nanti jadi susah beneran.

3.   Belajar dari yang mudah
Sama prinsipnya seperti mengerjakan soal: kerjakan dari yang mudah dulu. Misalnya dari percakapan sehari-hari, “How are you?” “What’s up?” “What’s going on?” “See you next time”

4.   Cari sesuatu yang kamu sukai yang berhubungan dengan Bahasa Inggris
Kalau belajar dikaitkan dengan sesuatu yang kita suka, insyaAllah makin terasa mudah dan ringan. Contohnya: dulu aku termotivasi belajar bahasa Inggris sejak pertama kali nonton video klip Westlife – I Have A Dream. Keinginan makin kuat saat mereka mau konser disini dan ada kompetisi meet and greet. Aku minta ajarin banyak tentang bahasa Inggris sama temen-temen di sekolah. Malu kan seandainya meet and greet tapi ngga bisa ngomong apa-apa.

5.   Paksa
Adakalanya kita harus paksa diri kita. Paksa gimana nih maksudnya? Pengen bisa bahasa Inggris kan? Untuk itu harus apa? Belajar. Dulu pas SMP aku masuk RSBI dengan bahasa Inggris yang super pas-pasan. Dan aku gagal ulangan harian fisika 2 kali (setelah 2 kali bapaknya nggak ngasih remedial lagi) hanya karena aku ngga ngerti arti soalnya yang dibikin dalam bahasa Inggris. Sedih kan ya? Akhirnya lama kelamaan aku berpikir, kalo gini terus aku remedial terus dong? Dan aku pun mulai belajar bahasa Inggris. Entah kalau liat buku sambil buka kamus dan dengan cara-cara lain. Aku memaksa diriku biar bisa.

6.   Temukan cara yang menyenangkan
Yap! Misalnya dengan mendengarkan lagu dari penyanyi favorit kita. Iseng-iseng dengerin liriknya dan lama-lama nanti kepo, “lagu ini sebenernya tentang apa sih?” lalu kita akan googling liriknya. Pas kita googling liriknya, kita akan tambah kepo lagi sama arti beberapa kata yang belum kita tau. Nah dari sini bisa jadi salah satu cara menyenangkan menambah vocabulary.

7.   Latihan pronounciation
Ngeliat orang british ngomong keren ya? Lama-lama aku pengen niruin. Tapi apa daya lidah asli Indonesia hehe. Tapi bukan berarti nggak bisa. Nah ini berhubungan sama nomor 6, ketika dengerin lagu coba kita nyanyiin ulang. Kita tirukan cara penyanyi itu mengucapkan kata per kata. Disisi lain kita juga bisa mencoba nonton film dan liat dialek mereka. Sesekali berlatihlah ngomong dengan diri sendiri di depan kaca. Tapi jangan ngomong sendiri di depan umum ya.

8.   Grammar
Mungkin sebagian orang berpendapat grammar itu nggak penting. Bukan nggak penting, grammar itu penting juga buat tes. Dan kalau kita menguasai grammar kan malah makin keren tuh bahasa Inggris kita, udah logat british + grammar mantab = … ? cara belajar grammar nggak perlu muluk-muluk menghapalkan rumus. Banyak baca artikel aja. Sebelumnya beli buku saku kecil yang isinya tenses dan grammar. Baca-baca kalau ada waktu luang. Nah saat kita baca artikel kita akan sedikit-sedikit terbesit terapan grammar yang tadi kita baca di kalimat artikel tersebut.

Sekian tipsnya. Semoga membantu. SEMANGAT!



Jumat, 15 Agustus 2014

I'm in Jakarta

Ngga jarang waktu kita naik angkutan umum atau sedang mengendarai kendaraan pribadi tiba-tiba ada yang nyerobot, ngeklakson gara-gara lambat atau macet yang ngga ada ujungnya. Disini pengalaman pribadiku sewaktu pertama kali merasakan ‘keras’nya Jakarta. Disana-sini macet dan ngga bisa diprediksi kapan lancarnya. Kalau kita berangkat kesiangan dikit aja udah ngga bisa jalan sama sekali, horrible! That’s what in my mind when I saw traffic jam in our capital city, Jakarta.

Waktu itu hari pertama masuk sekolah, hari pertama MOS SMAku di Jakarta. Seperti hari-hari sebelumnya, aku, mama, dan papa berangkat jam 6 kurang 15 menit dari rumah. Dan belum sampai 1 km, mobil ngga bisa gerak sama sekali. Padat! Sepeda motor pada ngeklaksonin sana-sini sembari nyerobot nyari jalan diantara celah-celah mobil. (really, I hate this situation so much). Mobil sama sekali ngga bergerak selama 30 menit, waktu menunjukkan pukul 6 lewat 15 sekarang dan itu artinya 15 menit lagi gerbang sekolah bakal ditutup. Aku diam di dalam mobil dan tenang, tidak ada perasaan takut terlambat sama sekali. Sampai melihat pengendara mobil di depan pada turun dari mobil dan memilih jalan kaki. Hampir semua turun dari mobil. Keadaan tambah kacau waktu sepeda motor udah ngga bisa ‘nyelip’ lagi di celah-celah mobil. Akhirnya, aku sama mama milih turun dari mobil dan jalan sekitar 1,5 km. Ojek disana-sini udah pada fullbook. So how could I go to school? Sekolah masih 2 km lagi. Dan akhirnya di perempatan kedua di daerah Pondok Kopi, ada ojek 1 biji. Tanpa pikir panjang aku sama mama langsung ngebooking ojek itu. “SMA 44 ya, pak!” kata mama. Ngga sempat mikir orang-orang pada ngeliatin diriku yang aneh, pake jilbab yang diatasnya ada 4 buah pita merah sambil bawa nametag yang talinya dari tali jemuran warna kuning. Hhhhh I just didn’t care about it anymore. Yang penting aku nyampe sekolah dan ngga telat. Kulirik jam tanganku dan waktu menunjukkan pukul setengah 7 kurang 2 menit ketika (akhirnya) bang ojek nyampe di depan gapura sekolah.

Sejak saat itu, aku, mama, dan papa sepakat berangkat dari rumah jam 5.30. jam segitu di Jakarta masih gelap, lampu jalan masih menyala. Bahkan aku baru denger ayam berkokok, ini mungkin ayamnya yang semalem begadang jadi dia berkokoknya kesiangan atau mungkin dia lagi pengen berkokok jam segitu. But that’s so much better than stuck in the unpredictable traffic jam. INI JAKARTA. INI JAKARTA. Tegasku sekali lagi. Mata sepet dan masih klangopan harus disingkirkan daripada telat ke sekolah.

Sampai sekolah bukan cuma itu tantangannya, aku yang ngga biasa ngomong “Gue” “Lo” seakan diwajibkan ngomong pake 2 kata ini. Semua orang ngomong pake itu. “I can’t do this. This is not me.” pikirku. Haruskah? Haruskah? Pikirku tambah miris. Akhirnya dengan logat medokku (kata temen-temen), aku tetep ngomong menggunakan kata-kata tercinta, “Aku” “Kamu” Alhamdulillah yah :’)

Ketemu banyak anak-anak yang megang blackberry, iPhone, iPod aku jadi teinget sama pesen papa “Ojo dumeh (jangan sok), Ojo kagetan (jangan gampang kaget), Ojo gumun”. Oke, aku ngeliatnya jadi biasa aja, aku cuma butuh penyesuaian diri ‘beberapa waktu’ disini, di Jakarta. Dan dari sini aku memahami 1 pelajaran penting, “salah satu saat paling sulit dalam hidup adalah saat kita harus beradaptasi dengan lingkungan dan keadaan baru yang berbeda dari keadaan kita biasanya.” Anak Jakarta rata-rata supel. Aku? Aku jadi jutek dan bête banget di sekolah gara-gara tiap pengen ngomong, “Gue” dan “Lo” susah banget keluar dari mulut ini. Sedikit ada rasa minder, anak-anak disini stylish. Sekilas, itu hal ‘ngeri’ yang saya lihat di Jakarta. Tapi, apapun yang terjadi kita harus memandangnya dari hal positif. Ambil sisi positif. Jangan sampe kita bête atau ada perasaan bête yang bikin cepet down. Be strong is the only way.

[QUOTE] “Aku mulai mengenal Jakarta, membencinya, mencintainya, membencinya, dan mungkin akan terus begitu.” (Iwan Setyawan – 9 Summers 10 Autumns)