Kamis, 25 Juni 2015

Save The Last For The Best!

Inilah secuil ceritaku saat mendaftar FK UII. 

Pendaftaran
Saat itu menjelang pukul 16.00 saat aku dan papa berangkat menuju Stasiun Gambir untuk pergi ke Yogyakarta. Besok adalah pendaftaran terakhir PBT UII sekaligus gelombang terakhir. Ini kali pertama aku mengikuti tes di UII. Akhirnya kami sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta pagi sekali dan langsung menuju Hotel Ishiro di Jl. Kaliurang Km 4.

Setelah mencari sarapan, aku dan papa langsung melanjutkan perjalanan menuju UII naik taksi, satu-satunya kendaraan umum yang ada di Jogja. Sebenarnya masih ada semacam minibus yang sudah tua dan juga transjogja, tapi setahuku ngga melewati rute ke UII di Jl. Kaliurang Km 14. Dan ditambah lagi menunggu kendaraan tersebut memakan waktu lama.

Akhirnya sampailah di gedung D3 Ekonomi UII, tempat pendaftaran dan langsung mengambil nomor antrian. Sekilas tentang UII, UII merupakan kampus swasta tertua di Indonesia. Suasana kampusnya rindang, hijau, sejuk, dan bersih. Kesan pertama,
“WOW”. Hahaha. Setelah membayar biaya pendaftaran sebesar 250.000, aku langsung menuju basement di dekat situ untuk key in data dan selanjutnya melakukan foto dan sidik jari. Wah ketat juga ya ternyata.

Singkat cerita, semua proses pendaftaran rampung dan tinggal menunggu tesnya yang bertepatan pada tanggal 14 Juni. Yap! Bebarengan dengan SIMAK UI dan UTUL UGM. Dan lalainya, aku lupa membooking hotel lain di sekitar situ, semua full! Ditambah lagi ada acara wisuda di UPN Jogja. Sempat bingung, masa mau menggelandang? L

Hari itu kumanfaatkan belajar soal-soal yang dikirim Dita. Sementara papa keluar untuk solat Jumat dan mencari hotel. Alhamdulillah dapat walaupun ini tidak bisa dibilang hotel, lebih mirip penginapan. Ngga papa, Ya Allah aku ikhlas. Wkwkwk. Tersisalah malam terakhir sebelum bertempur lagi seusai SBMPTN. Aku tidur pukul 22.30.

Tes Tahap 1
            Pagi sekali sudah banyak yang berkumpul di gedung FTSP. Aku langsung menuju ruangan ujianku yang terletak di lantai 3. Jika bisa kugambarkan bagaimana suasana disana? (Atau mungkin suasana hatiku sendiri?) TEGANG. Aku duduk sambil membolak balik buku soal-soal sambil sesekali berhenti untuk memperhatikan sekitar. Makin siang makin banyak yang datang. Okay, aku ngga boleh grogi dan deg-degan. Bisa buyar. Sebenarnya sudah dari semalam aku memasrahkan diri sama Allah. “Ya Allah, aku sudah melakukan yang terbaik. Aku ikhlas dengan hasilnya. Aku percaya bahwa Engkau akan memberiku yang menurutMu baik.”

            Khusus Fakultas Kedokteran, jumlah soalnya 125 dengan waktu 125 menit. Jadi, masing-masing soal 25 menit. Soalnya terdiri dari Agama Islam, Bahasa Inggris, TPA, Aritmatika/Matematika, dan IPA. Tes dimulai tepat pukul 09.00 dan saat itu salah satu pengawas berseru, “Kami ingatkan kepada yang merasa menjadi joki di ruangan ini untuk segera keluar.” katanya. “Kami beri kesempatan.” Semua muslimah (ya, karena satu ruang auditorium perempuan berhijab semua) melirik satu sama lain, tak ada yang bergeming. Disela-sela tes, dua orang pengawas menghampiri satu per satu peserta (yang sepertinya berjumlah hampir 100 orang) untuk dicek kartu pesertanya dan juga….sidik jari.

            Gong terakhir pertanda selesainya tes berbunyi. Aku merasa lega walaupun jari-jari tanganku masih gemetar. Entah kenapa aku tidak pernah merasa selega ini sebelumnya, bahkan setelah SBMPTN yang kurasakan hanya galau. Okay, tinggal menunggu tiga hari kemudian untuk mengetahui apakah aku lolos atau tidak. Untuk melewatkan tiga hari itu, aku pulang ke Malang. Refreshing.

            Tak terasa sudah tanggal 17 Juni dan pagi-pagi sekali kubuka website UII untuk melihat pengumuman. Hatiku bergetar (lebay-_-). Alhamdulillah, aku lolos tahap satu. Sungguh mengejutkan! Banyak yang mencoba berkali-kali untuk tembus FK UII. Namun Allah memberiku kemudahan dengan satu kali coba langsung lolos. Ya, kalau nggak lolos harus melupakan UII karena ini gelombang terakhir. Agak berat ya, karena aku belum dapat tempat bernaung untuk kuliah alias belum diterima dimana-mana. Apalagi akreditasi FK UII ini sudah A. J

Tes Tahap 2
            Lolos tahap 1 tidak bisa enak leha-leha, khusus FK diwajibkan mengikuti tes tahap 2 tanggal 19 Juni yang mencakup wawancara, psikotes, dan mengerjakan soal IPA essay. Sebelumnya, Dita sudah menceritakan tentang tes tahap 2 ini. Dia memintaku untuk hati-hati, karena dari gelombangnya “dibuang” lima orang. Susah juga mau jadi dokter ya…

Aku, Mama, Papa berangkat ke Jogja dari Malang tanggal 18 Juni pagi dengan kereta. Keesokan harinya setelah sarapan, kami langsung menuju ke Gedung Prof. Dr. Sardjito UII. Orang tua dan anak mereka sudah ada di lantai 3, aku duduk diluar karena di dalam sudah nggak ada tempat duduk lagi. Aku sempat mengobrol dengan beberapa peserta disitu, jarang malah yang dari Jogja. Rata-rata luar kota, Magelang, Bogor, Lampung, bahkan Mataram. Amazing, pikirku.

Tes pun dimulai. Dibagikan kertas tentang pernyataan yang harus kita jawab. Pertanyaan-pertanyaannya kurang lebih seperti, “Apakah anda mempunyai banyak teman?” “Apakah anda takut darah?”. Ada juga tes menggambar orang, pohon, dan rumah. Menyusul kemudian mengerjakan soal IPA essay. Semuanya akhirnya selesai. Tinggal menunggu antrian wawancara. Yang didahulukan anak laki-laki karena mepet dengan waktu jumatan. Well, kuhabiskan waktu mengobrol dengan teman-teman baruku, Zaski dari Bogor dan Lia dari Jogja (lokal nih lokal akhirnya wkwk).

Petugas mulai memanggil nama kami satu per satu untuk pergi ke ruang wawancara di gedung sebelah. Tanganku mulai dingin sedangkan badanku panas (loh?-_-). “Yang penting jaga sikap. Jangan lupa salam.” Aku teringat nasehat Dita di whatsapp.

“Assalamualaikum” kataku sok manis kepada dokter penguji. Ya aku grogi, mau gimana lagi untuk pura-pura ngga grogi? “Waalaikumsalam, silahkan duduk” katanya ramah. Kemudian dokter tersebut membuka berkas-berkasku. “Annisa ya?” tanyanya. “Iya betul” jawabku sopan. “Kamu sekolah di Jakarta ya? Kenapa pilih di Jogja?” kujawab spontan, “Karena di Jakarta suasananya kurang enak untuk belajar, bu. Rame. Hehe.” “Hm gitu”

“Kamu anak keberapa?” lanjutnya. “Pertama dan terakhir, bu.” “Oh anak tunggal ya, berarti tulang punggung keluarga…” (akhirnya responnya panjang juga wkwk). Lalu tibalah ke pertanyaan, “Kenapa kepengen jadi dokter?” dengan polos dan gatau apa-apa aku menjawab, “Karena saya ingin  mengabdi kepada masyarakat, bu.” Aku merasa eneg dengan jawaban bullshitku dan mungkin juga dirasakan sama bu dokter penguji. “Kamu pengen jadi dokter seperti apa sih?” lanjutnya. “Hmm saya pengen jadi dokter yang tidak terlalu classy” kataku sambil mengacungkan jari menandakan tanda kutip. “Maksudnya nggak terlalu kelas atas. Banyak orang diluar sana yang belum mendapat pengobatan layak karena mahal.” tambahku. Tak kusangka aku makin dikejar dengan jawaban macam ini. Aku harus kuaaaaat! (?)

“Kalau gitu kamu dapat penghasilan darimana?” “Saya mau daftar PNS, bu” jawabku yang bener-bener seadanya karena nggak tau mau jawab apa lagi. “Karena kalau PNS kan hidupnya terjamin” tambahku makin sotoy. Ya, setauku begitu. PNS Jakarta aja minimal 12juta. Tapi percayalah, insyaAllah bukan itu niatanku. Aku baru kepikir pas sudah selesai kenapa aku nggak jawab gini, “Saya juga mau buka usaha, bu. Jadi masalah keuangan nggak jadi beban.” Atau mungkin, “Saya mau cari suami orang kaya aja, bu.” (NGAKAK)

Aku sempat bête di sesi ini karena aku bener-bener kelihatan ga kuat niatan jadi dokter. Lalu topik beralih ke sekolah. “Kamu ikut organsasi?” aku terdiam. Aku pasif. Aku ngga ikut OSIS. Akhirnya kujawab, “Ikut English Club, bu.” “Berarti bahasa Inggris kamu bagus dong?” “Yaaa lumayaan…” jawabku nyantai. “TOEFL kamu berapa?” “Belum pernah tes TOEFL, bu. Pernahnya TOEIC.” Hening sejenak. “Coba kamu perkenalkan diri pakai bahasa Inggris!” waduh pikirku, leh uga nih. Dengan gaya sok pede aku mulai, “My name is Annisa Tristifany. I’m the first and the last child in my family.” Hahaha ngulang-ngulang yang tadi karena bingung. Aku diam sejenak untuk berpikir apalagi yang harus dibicarakan. “I was born in Malang on 20th of January 1997.” Bu dokter penguji mengangguk. “My hobby is…writing…about my opinion on my blog, reading book sometime…and….playing tennis.” “Oh kamu suka tennis?” tanyanya. “Yes” jawabku yang masih kebawa bahasa Inggris.

Selanjutnya bu dokter penguji memberiku beberapa kertas bacaan untuk dijawab. Diantaranya kasus penyakit batuk rejan, pengertian transpor aktif, dan sistem pembelajaran di FK UII. Aku lega saat penguji bilang, “Sudah kayaknya itu aja…” aku menata kembali kertas itu dan salim (?) “Makasi, Bu.” kataku. Saat aku mau keluar tiba-tiba ia berkata, “Kalau nanti kuliah di UII jangan pakai celana jeans ya…” “Harus rok, bu?” “Engga, celana boleh tapi kain yang longgar.” “Oh iya…”

Aku kemudian keluar dan memberitahu peserta selanjutnya untuk masuk. Alhamdulillah aku lolos tahap kedua dari resmi diterima di UII.


Seperti kata Fina, “Save the last for the best.” Hahaha.

Sabtu, 14 Februari 2015

Kenapa Baru Sekarang?

Assalamualaikum.

Nggak kerasa habis ini mau jadi maba alias mahasiswa baru. Setelah genap berusia 18 tahun tanggal 20 Januari kemarin, aku merasa makin dekat ke dunia dewasa. Wow yang kayak apa tuh? Aku jadi lebih suka mengamati keadaan sekitar dan orang-orangnya. Lho memang dulu engga? Ngga sedetil ini hahaha. Mau jadi detektif keleus (?) Aku mulai mengerti sekarang kalau kita ngga boleh asal ceplas ceplos omongan kita karena selalu ada konsekuensinya. Seiring bertambahnya usia kita, kita didapuk untuk bisa menjadi lebih dewasa sehingga apapun yang kita lakukan jadi beresiko. Salah ngomong aja bisa dipikir yang lain-lain sama orang lain. Kadang niat kita apa disangkanya apa. Hm. Aku jadi sadar waktu jaman alay dulu……kalau ada masalah suka langsung koar-koar dan show off ke orang-orang. Sekarang? Yah pikir-pikir dulu deh. Kita juga harus bisa membedakan mana kawan mana lawan. Jangan hanya berpikir mereka teman tapi diam-diam… suer ini aku cuma ngingetin aja bukan atas pengalaman pribadi. Jadi saranku, hati-hatilah karena semua yang terlihat belum tentu seperti sangkaan kita.

My beloved classmates, Alchemist. Entah kenapa baru sekarang aku ngerasa kayak keluarga sama mereka. Bener-bener deket dan ngga mau pisah. Yang dulunya jaim-jaiman sekarang udah bisa menggila bersama. Dulu yang nganggap saling invisible sekarang bisa nyatu banget satu sama lain. Aku ngerasanya mulai kita ngurusin proyek buku tahunan. Dengan idenya yang emang keren-keren Desan (Dea Sandra) menawarkan konsep-konsep lucu buat halaman buku tahunan kelas kita. Cewek cantik yang jago gambar ini punya banyak pemikiran yang aku sendiri cuma bisa ‘iya-iya’ aja dengernya. Dengan ikhlas dia rela gambarin angket buat foto anak-anak sampe-sampe angketnya sendiri belum kelar pas hari H. Berbagai persiapan pun mulai diurus. Mulai dari nyari studio buat foto sampai cara ke studio itu yang kebetulan letaknya di Jakarta Barat. Mau bawa mobil sendiri-sendiri atau nyewa bus? Akhirnya karena kesolidan kita (hah? wkwkwk) kita naik bus bareng. Suasana di dalam bus kurang lebih sama seperti kita mau berangkat study tour ke Jogja Juni 2014 lalu. Cewek-cewek yang belum dandan dan ngga bisa dandan dibantuin sama cewek-cewek yang sudah dandan.

Setelah itu kita semua jadi makin deket karena banyaknya tugas kelompok yang anggotanya ditentukan guru sehingga kita nggak hanya main sama yang itu-itu aja. Kita jadi banyak mengenal karakter temen-temen yang lain yang sebelumnya ngga kita tau. Momen-momen ini makin erat kala drama korea membooming lagi, Dea Al Zhahra (Deay) adalah bagian kompor. Mendadak dia jadi tempat peminjaman DVD Drama Korea karena DVDnya udah bejibun. Drama korea dan para aktor tampannya jadi hot topic cewek-cewek di kelas. Bahkan cowok-cowoknya pun sepertinya mulai tertarik….
Wah wah. Vera, dia jatuh hati sama Lee Min Ho dan kemudian beli buku percakapan korea gitu dan mulai latihan. Yaampun kocak sekali. Aktor-aktor yang populer di kelas adalah Lee Jong Suk, Kim Woo Bin, dan Lee Min Ho.

Bulan Februari menjadi salah satu saat berkesan bagi kelas kami. Kami menang juara rata-rata nilai UAS tertinggi se-kelas-12-IPA. Sebagai hadiahnya, masing-masing dapet voucher belanja di kantin Rp 10.000. HOORAY! Oh iya, mungkin karena kelas kita menang, kita jadi dapet rekomendasi buat menghadiri Education Expo di JCC. Kita berangkat bareng kesana naik bus sekolah, tapi karena jumlahnya yang terbatas akhirnya ada 3 orang yang nyumbangin mobil buat nganter kita kesana. Kita yang mulanya main sama itu-itu aja mulai main sama yang lain. “Kubu-kubuan” perlahan memudar.


Momen ujian praktek pun tiba. Alhamdulillah kami bisa melaluinya dengan baik dan lancar. Ujian praktek memang harus saling bantu membantu wkwkwk. Yang aku pribadi rasakan adalah aku bahagia bisa bersama dengan kelas ini. Aku bersyukur banget punya mereka. Awalnya aku canggung ngomong pake “aku” “kamu” karena takut diledekin (.___.) tapi lama kelamaan mereka juga mengerti dan malah keikut ngomong aku kamu juga. Yoopo iki.
Dear Ruth! Kalo baca ini (plis baca Ruth) aku ngefans berat sama kamu Ruth akakakaka. Jadilah pelawak Ruth!!!! Entah kenapa jadi bakal kangen berat sama Ruth kalo udah kuliah nanti. Kangen lawakannya Ruth.
Bakal kangen juga sama toaknya Puti yang kecabeannya yang suka godain cowok-cowok di kelas hahahaha (tapi bercanda._.)
Oiya tiba-tiba aku jadi keinget Ecan, laki-laki alchemist yang lemah lembut tapi pas ujian praktek debat bisa berubah jadi tegas setegas laki-laki seutuhnya (?). Dia sama Ical jadi “tiang”nya alchemist. Aku ngga ngerti lagi kenapa mereka bisa setinggi ini. Ada Lukman juga yang biasanya diceng-cengin wkwkwk.
Wahyu! Yang bernama lengkap Wahyu Arianto: nama jawa, muka cina, tapi aslinya batak. Jago edit video juga nih.
Ada juga musek atau Arief Danantama yang suka nyanyi. Dan waktu kita kepilih jadi paduan suara buat HUT RI tahun lalu, “Udah, sek, lu lypsinc aja deh mendingan.” Dengan tabah dia pun nurut. Jangan patah semangat ya, sek! Siapa tahu nanti gede bikin boyband sehits boyband korea.
Relia….dia ini diam-diam kocak sekali. Ada bakat lawak yang terpendam di dalam dirinya. Dia juga jago lho mainin aplikasi/software desain atau gambar langsung.
Essar! Kita sudah sekelas sejak kelas X sar, tapi suara bersinmu masih gitu-gitu aja. Semangat ya, sar. Semoga suatu saat Osa bisa menerimamu (?)
Risda. Nama aslinya Fari Merisda Halawa. Menolak keras jika dipanggil Fari dan pengen masuk jurusan yang berkaitan sama kimia. Punya rambut lebih lembut dan lebih bagus dari bintang iklan sampo, percayalah. Dia gelian, senggol dikit udah….wkwkwk. Punya nama panggilan lain seperti: Mbak Ida, Dadida, Aida. Aku, Osa, Risda cukup sering TST bareng.
Maaf ngga bisa diceritain satu per satu anak-anaknya. Kalo mau diceritain request aja ya (?). Lumayan famous di blog temen wkwk. But I love you all!!! (?)

I just wanna take a moment to breathe and reminisce those moments we’ve been through…. I keep on asking myself  “Kenapa baru sekarang?” I feel this close friendship  with these crazy-lovely kids. I pray that we can keep our friendship until we will be old. You’ve been such as huge part of my life. You help me to survive in Jakarta that firstly I thought it was horrible. But we’ve made fun together! I love you, Alchemist. Merci beaucoup.

                        



Minggu, 28 Desember 2014

Tous Les Jours

“Mam, ayo ke tous les jours..” kataku mulai ngga sabar. “Ayo ayo.” Jawab mama yang matanya masih melirik kearah sepatu-sepatu itu. Beberapa langkah mendekati tous les jours entah kenapa jantungku makin berdegup kencang. Seolah-olah aku akan bertemu langsung dengan brand ambassadornya. Oh iya, alasanku ke tous les jours ngga lain dan ngga bukan adalah untuk melihat brand ambassadornya. Siapakah dia?


Mau dong jadi gelas sama pengaduk adonannya <3 (?)


Flashback beberapa bulan lalu waktu aku, Osa, Dea jalan-jalan ke kota kasablanka. Aku yang baru pertama kali kesini takjub gede banget ini mal (maaf katrok -_-v). Awal mula kita ke kyochon, restoran korea gitu yang brand ambassadornya Lee Min Ho (kesukaan dea nih). Setelah puas makan di kyochon, dea pulang ngebungkus dan dapet tas Lee Min Ho sama posternya. Masuk ke restoran ini semuanya serba Lee Min Ho, kertas alas piringnya Lee Min Ho. Ada TV yang muterin tentang Lee Min Ho. Memang Lee Min Ho ada dimana-mana. Lalu kita sholat dan main ke paper clip. Osa lagi ribet sendiri karena dia mau dijemput buat ke tempat kos kakaknya, aku sama Dea bingung kita mau pulang naik apa. Akhirnya kita mampir ke tous les jours. Aku milih roti yang biasa kumakan, muffin coklat sama roti ada sosisnya gitu. “Fan!!!!” kata Dea setengah syok menunjuk ke tempat pemutaran video. “Oh M G.”

Kembali ke cerita tadi. Dengan noraknya aku masuk ke dalam tous les jours sambil menggandeng tangan mama. Di meja kasirnya terpampang dua poster brand ambassadornya yang sangat tampan. Aku mencari-cari tempat pemutaran video toko roti ini dan ternyata diletakkan di bagian atas. Videonya sama seperti yang kulihat di instagram beberapa hari yang lalu (karena keasyikan sampe kuotaku habis sebelum waktunya, ini pertama kalinya). Video bertema natal dan tahun baru ini bercerita kurang lebih begini: si brand ambassador bingung milih baju atasan yang mana. Setelah milih dia langsung ke dapur untuk bikin kue. Kokinya aja cakep banget ya. Lalu setelah itu berpindah ke video dimana si brand ambassador mengelilingi pohon natal bersama beberapa anak kecil. Suasana terlihat begitu ceria dan dia menggendong satu anak untuk meletakkan bintang di pucuk pohon natal. “Ani mau jadi anak kecilnyaaaa.” Kataku histeris. Lalu salju pun mulai turun dan dia terlihat menikmati salju yang menempel di sweater merahnya. “Ani mau jadi saljunya ajaaaa.” Kemudian si brand ambassador tertawa bersama anak-anak kecil dengan senyum memikat yang mempesona. Aku benar-benar tidak mengedipkan mata. Video ini dibuat dengan sangat sempurna. Eh atau brand ambassadornya? Hehehe. Setiap untaian kata, senyuman diatur begitu proporsional sehingga membuatku makin terpesona. Di akhir video, dia memegang beberapa tumpuk kado seolah ingin memberikan kepada yang menontonnya. “Ani mau jadi kadonyaaaa… aaaaaaaa” lanjutku mulai merengek seperti anak kecil. “Hush hushhh diliatin ibu-ibu itu ngga malu?” kata mama yang tampaknya mulai malu sama kelakuanku yang super absurd. Aku melirik ke arah ibu-ibu itu dan tetap saja ngga peduli. “Jadi mau beli apa ini?” tanya mama. “Ngga tau. Ani kesini cuma mau liat dia.” Rengekku. “Kalau beli dapet poster nggak ya?” lanjutku. Kebetulan saat itu ada pembeli dan aku melihat dia hanya mendapat rotinya saja (hahaha). Aku mulai kecewa. “Mam, tanyain dong ke mbaknya kalau beli dapet apa.” “Tanya sendirilah..” jawab mama. “Ani maluuu. Mama yang tanya nanti ani pergi dulu ya.” Kataku makin songong. Hening. Kemudian mama mengimajinasikan percakapan yang akan terjadi:
Aku     : Mbak, bonus akhir tahun apa?
Mbak  : Adek maunya apa?
Aku langsung menyahuti imajinasi mama dengan:
Aku     : Saya mau brand ambassadornya aja mbaaak!!! Kataku mulai lagi. Sebenernya aku masih betah disana buat liat si brand ambassador yang keche parah. Akhirnya aku sadar kalau aku konyol dan bilang, “Ayo, mama tadi mau kemana? Ke Ace Hardware?” kebetulan Ace Hardware terletak 1 lantai diatas toko roti itu. Aku ngga bisa bohong kalau pikiranku masih di sana. Setelah puas keliling Ace Hardware aku dan mama mampir ke scoop dan paperclip. Keabrsudanku ngga berhenti disitu, dari lantai atas aku mematai-matai setiap pembeli apakah dapet poster atau engga, ternyata engga. Kecewa L Destinasi berakhir (lagi) di tous les jours. Aku kembali merengek-rengek kayak anak kecil dan dengan sabarnya mama selalu nyahutin rengekanku yang tingkat kekonyolannya makin ngga bisa ditoleransi. Setelah puas liat brand ambassadornya (lagi), dengan berat hati akhirnya aku bilang, “Ayo pulang.” Kami pun berjalan ke arah pintu keluar.

Di tengah perjalanan mama malah memancing ngomongin si BA. “Dia tinggi banget ya. Duduk aja badannya masih kelihatan gitu. Kalau kita paling cuman segini.” (ngomongin poster di deket kasir) “Iya, mam, 180 dia.” Kataku bangga “Mantu mama nanti kayak gitu ya…” Aku terdiam. Hanya bisa berkata, “Aamiin aamiin. Itu calon mantu mama..” kataku mulai gila lagi. Mama masih membayangkan dan mengobrol tentang kriteria mantunya. “Tinggi, karirnya bagus, smart….” Aku memotong cerita mama, “Dia tinggi. Dia karirnya bagus itu mam…” mataku mengeskpresikan kekaguman pada si BA. Mama kemudian melanjutkan, “Seiman… dia ngga seiman kan? Berarti bukan calon imam.” “Nanti dia jadi mualaf mam..” kataku ngeyel parah.


Rabu, 24 Desember 2014

There's Just A Little Difference Between Being A Fangirl and Falling in Love

Apa yang pertama kali kita pikirkan saat mendengar kata “Fangirl”?
Fangirl itu terdiri dari dua kata, fan (penggemar) dan girl (perempuan/cewek/gadis). Jadi fangirl adalah fans perempuan. Nah ada lagi istilah fangirling, kalau ditambah “ing” berarti aktivitas yang dilakukan sama fangirl itu. Contoh: ada seorang fangirl yang mengetahui penyanyi kesukaannya akan menggelar konser di negaranya. Si fangirl buru-buru beli tiket karena takut kehabisan. Tibalah hari dimana konser diadakan. Dengan segenap jiwa dan naluri seorang fangirl dia akan berusaha tampil se-khas mungkin untuk menunjukkan bahwa dia adalah fans (tingkat menengah ke parah) si penyanyi itu. Berbagai atribut pun disiapkan, dari mulai baju yang akan dia pakai. Biasanya baju bergambar atau bertuliskan hal yang berkaitan dengan penyanyi itu. Selain itu ada juga yang menyiapkan banner berharap akan dibaca. Masih banyak atribut-atribut lain seperti lightstick, bando, dan masih banyak lagi yang unik-unik. Fangirling itu beda tipis dengan jatuh cinta. Menjadi seorang fangirl bisa dibilang jatuh cinta secara terang-terangan tanpa harus khawatir soal tanggapan orang lain dan tanggapan orang yang kita suka.

Jadi fangirl adalah hal yang menyenangkan. Setidaknya begitu yang kurasakan selama kurang lebih 6 tahun menjalani hidup sebagai fangirl. Aku jadi termotivasi untuk menjalani sesuatu. Mungkin juga ini disebabkan karena aktivitas otak yang lagi “jatuh cinta” dan membuat kita lebih bersemangat. Nggak jauh beda saat kita jatuh cinta sama seseorang di kehidupan nyata. Semua yang dilakukan rasanya lebih berarti dan kita makin bersemangat melakukan hal-hal yang biasanya biasa-biasa aja. Iya kan? Contoh motivasi ini saat aku pengen banget ketemu Westlife dan malu banget seandainya nggak bisa bahasa Inggris di depan mereka. Nah sekarang tinggal gimana caranya bisa fasih bahasa Inggris dalam kurun waktu beberapa bulan. Hahaha padahal belum tentu dapet meet and greet udah siap-siap aja. Akhirnya persiapannya udah cukup, bahasa Inggrisku mulai mendingan dibanding dulu yang masih suka salah grammar dan keliatan pas-pasan banget. Walaupun akhirnya aku belum dapet kesempatan meet and greet sama mereka, tapi setidaknya aku dapet hal positif dimana bahasa Inggrisku mulai membaik. Selain bahasa Inggris aku jadi belajar menabung, aku beli tiket Westlife dengan uangku sendiri yang berhasil kukumpulkan selama setahun. Jualan pulsa, jajan dikurangin rela aku lakukan demi nabung buat beli tiket konser yang sudah lama kunantikan. Aku juga iseng buka tiket pesawat dan mengira-ngira cukup nggak uangku buat beli tiket konser plus tiket pesawat ke Jakarta. Temen-temenku mungkin berpikir kalau aku terlalu gila dan fanatik sama boyband satu ini, tapi kenyataannya memang iya. Beberapa dari mereka sempet ngga percaya kalau aku bakal ke Jakarta dan bolos sekolah demi Westlife. Padahal itu seminggu sebelum UTS. Nekat! Nonton konser tentunya nggak asyik sendirian kan? Nah karena fangirling juga aku punya banyaaaak temen baru. Kita nonton konser bareng, kadang gathering dan hang out bareng.   

Kelihatannya menyenangkan ya jadi fangirl? Yep! Tapi kembali ada suka ada duka. Dukanya jadi fangirl juga lumayan lho. Contohnya: seorang fangirl baru saja menonton konser penyanyi kesukaannya untuk pertama kalinya. Selang dua minggu kemudian, penyanyi itu mengumumkan bahwa dia akan berhenti. *hening* rasanya nggak sanggup. Selama ini si fangirl sudah begitu semangat menantikan album baru, tour, DVD, merchandise, dan segala berita tentang penyanyi itu dan tiba-tiba semuanya dihentikan? Di kehidupan nyata ini rasanya kayak ditinggalin pacar. Semua kenangan masih tersisa namun si pemberi kenangan hanya tinggal asa. Ada juga dimana saat seorang fangirl merasa cemburu berat saat artis kesukaannya pacaran/ menikah. Rasanya kayak, “Kenapa bukan aku? Kenapa harus dia?” dramatis sekali ilustrasinya. Hahahaha. Ini mungkin juga karena jadi fangirl suka mengklaim kalo orang yang kita fangirl-in adalah pacar/gebetan/suami dan lain-lain. “Kim Soo Hyun itu pacarku, titik.” Kita harus belajar menerima bahwa dunia kita dan si artis memang berbeda. Mereka artis dan pasangannya pasti sesama artis (walaupun ngga semua artis begitu). Kecemburuan ini kadang berlanjut. Kim Soo Hyun nyebut wanita idamannya adalah aktris dari Inggris, Kaya Scodelario. Mereka sempat menjalani photoshoot bareng untuk salah satu produk. Fotonya mesra banget, rasanya kalau liat itu tiba-tiba ada backsound lagunya cita citata dicampur lagu the last timenya Taylor Swift. Nanonanonano rame rasanya! Kaya memang cantik banget. Tapi mau cemburu kayak apapun, who the hell cares? We’re only fans. We’re just admirer.

Dan ngga berhenti sampai disitu, karena fangirl adalah seorang wanita dan wanita umumnya emosional. Nggak jarang suka ngiri satu sama lain. Kalau ada yang dibales tweetnya atau bisa foto bareng dan dapet kesempatan meet and greet sukanya jealous-jealous-an. Tentu tanggapan masing-masing orang berbeda. Ada yang, “Yaudahlah, mungkin belum rejeki.” Ada yang, “Ih kok dia bisa dapet sih? Dia ngapain emang sampe bisa dapet gituan?” atau “Ini ngga adil!!!!!!” (sambil nangis meraung-raung di depan kaca) ß hanya ilustrasi. Jadi, ketahuilan jadi fans itu bukanlah hal yang gampang. Kita itu sama halnya dengan orang yang dimabuk cinta. Kita merasakan suka, cemburu, deg-degan, khawatir, dan perasaan-perasaan lainnya. Makanya maklumi kami saat kami suka mengupdate status dan membicarakan artis kesukaan kami. Karena itulah bagian dari “show up” kami. Buat fangirl yang selama ini unek-uneknya sama, jangan lupa recommend di masing-masing socmedmu ya! Sekalian promosiin blog ini. Huehuehue.

One thing that I learned from being a fangirl is: Being a fangirl is better than loving someone secretly. We don’t need to be shy and hide our love feelings because we can ‘safely’ show it even in public. No need to worry too about what will their reaction be like. I still can love. He/they still love me as a fan. J


Selasa, 16 Desember 2014

No Title Needed






*tarik napas dulu*
*duduk di kursi perpustakaan pribadi ala Do Min Joon*
Sekarang aku ngerasa kayak jadi Chun Song Yi di episode 10 ke atas.
Dan ini memuncak kala sore menjelang.
Sebenernya aku kemakan omongan sendiri, “Aku ngga suka cowok imut”
Aku masih bisa ingat dengan jelas kalau aku ngomong gitu, waktu SMP kalau ngga salah.
Dan sekarang….?
APA INI? Iya kamu iya!



Iya, oppa. Kamu.



Dia imut sekali. Imutnya bukan imut umum. Imut campur menggemaskan. Menggemaskannya bukan menggemaskan umum. Tapi cakep dan charming. Cakep dan charmingnya bukan seperti biasanya. Susah kan kalau lagi in love seolah-olah terasa ngga cukup diungkapkan sama kata-kata. I’m going speechless now. Mencoba cerita dan ngajak fangirling Osa, Dea, Wida. Mereka punya tanggepan unik. Dea: ngga bales bbm. Osa: bales kadang-kadang. Wida: bales tapi bilang kalau aku telat. Aku ngga ngerti aku harus fangirling sama siapa. Yukaris? Aku sempet vakum dulu dari dunia fangirl yukaris (gayanyaaa wkwkwk). Aku buka instagram dan liat video iklan Tous Les Jours Kim Soo Hyun khusus natal. Yaampun oppa aku menantikan saat kita berbagi ketupat dan opor ayam bersama. Dan terakhir kali aku bbm dea, “DEAA TRAKTIR AKU TOUS LES JOURS!!!! Ada oppa ada oppaaaa.” Dia bales apa? So sweet sekali: “O -_-“ Tapi ada satu orang yang nanggepin cukup panjang, Ofi. Makasi ya, neng. Kau mengerti kondisi jiwa dan pikiranku karena ini. (?)



Aku sempat vakum. Dan kenapa bisa kembali lagi? Karena aku ngga ingin fansku kecewa. ß ini kata-kata seharusnya diucapkan sama Westlife kalo comeback nanti :D

Hari itu hari selasa. Sehari selepas ujian akhir semester selesai. Seperti biasa, kita ngga ngapai-ngapain. Dan aku juga bingung mau ngapain. Ngga boleh pulang dan harus stuck. Aku liat Risda sama Tera lagi nonton sesuatu di laptop. Aku join dengan gaya sksd. Itu drama You Who Came From The Star episode 8. “Halah ngga papa, ngga bakal kecanduan kok. Dramanya kan katanya ngayal.” Batinku sambil terus menonton. “Ih kenapa dia rambutnya harus kayak gitu sih? Alay.” Komenku sembarangan. Hening. Lama kelamaan…. Apa ini….. apa ini….. dan akhirnya aku kembali kecanduan. Cinta lama pun bersemi kembali di musim hujan. Episode demi episode terlewati dan aku makin ngga sabar pengen tau lanjutannya. Aku tiba-tiba ngerasa ngga pengen jam pulang sekolah. Hahahaha.

Dari jaman pertama kali liat The Moon That Embraces The Sun udah ngerasa pilu setiap liat dia nangis. Mama aja ngakuin dia actingnya bagus banget kalau nangis. Jangankan acting, nangis biasa aja waktu fanmeeting di Jakarta udah bikin terharu. Yaampun oppa!!!


Aku malu sebenernya nulis ginian. Kayak ngga berarti apa-apa ya? Tapi aku suka Kim Soo Hyun. Mungkin suatu saat nanti waktu aku liat tulisan ini, aku bakal ngetawain diri sendiri saking alaynya. Hapus? Hm gimana ya? Alay itu memalukan tapi sayang kalau ngga dikenang. Itulah masa menuju pendewasaan, kata Raditya Dika. Terima kasih sudah mengerti (bukan terima kasih sudah membaca).  

Kamis, 11 Desember 2014

Demam Drama Korea

Halo semuanya! Maaf sudah vakum beberapa bulan dari dunia blogging. Kangen juga lama-lama ngga nge-blog. Disis lain juga ngga ada inspirasi buat nulis. Dan diliat-liat juga cukup disibukkan sama banyak tugas dan ulangan. Okay! Jangan bahas itu lebih jauh ya. Pasti pada kepo kan mau bahas apa? Dari judulnya udah keliatan sih hehe.

Aku pertama kali suka drama korea waktu SD kelas 2. Dan drama korea yang beruntung itu adalah……….Jewel In The Palace. Berkisah tetang seorang dayang istana yang selalu ingin disingkirkan sama pesaingnya hingga ia beralih profesi jadi perawat selanjutnya dia naik pangkat jadi dokter pribadi raja. Drama ini terdiri dari 70 episode, cuman ngga ada sedikit pun episode yang boring. Peran masing-masing juga jelas. Jadi, nggak masalah sebanyak apa episodenya. Ceritanya tetep seru! Drama korea kedua yang ku tonton jatuh pada……..Boys Before Flowers! Atau BBF. Ya pada tau kan drama ini ada 4 cogan tajir gitu. Aku nonton ini juga gara-gara Petra bawa DVDnya ke sekolah waktu kelas 7 dulu. Bahasaku agak gaul dikit ya akhir-akhir ini. Apa ini pertanda? Kalau aku mulai membaur sama Jakarta (?) Lalu berlanjut ke My Fair Lady, The Great Queen Seondeok, Dong Yi, The Moon That Embraces The Sun, dan setelah vakum akhirnya nonton drama baru berjudul You Who Came From The Stars.

Sudah 2 tahun sejak aku nonton drama korea terakhir, The Moon That Embraces The Sun. Awal nonton di indosiar iseng. Karena dramanya kolosal aku tertarik. Mungkin sebagian nanya kenapa drama kolosal? Bukannya ceritanya aneh? Ngga sama sekali. Menurutku ini ceritanya halus banget dan ngga kuno. Seringkali drama korea kolosal episodenya banyak. Kayak Dong Yi itu ada 60-an episode. Tapi aku enjoy aja nontonnya karena memang seru.

Flashback saat aku dan mama lagi liburan di rumah Malang dan kami ngga ada rencana kemana-mana. Setelah beli DVD The Moon That Embraces The Sun di Matos akhirnya aku dan mama nobar. Tau ngga rasanya nonton drama korea? Kalo episodenya habis selalu pengen lanjut terus sampai ending. Aku pengen nangis saking perihnya mataku liat ke TV terus. Aku sama Mama cuma berhenti waktu sholat dan makan. Kadang lupa kalo Papa belum dibikinin makan. Terhanyut drama korea. Oh iya, Mamaku itu bukan tipe yang terlalu bawa perasaan banget kalo nonton film atau drama. Karena Mama membayangkan skenario film dan bermindset kalau itu hanya sebatas akting. Okay, itu yang selalu Mama bilang. Aku tiduran di kursi panjang sambil menatap TV dengan serius sementara Mama juga tiduran di kursi seberang meja. Akhirnya sudah sampai episode 5 dimana Yeon Woo-nya udah kritis antara hidup dan mati. Si bapaknya Yeon Woo udah frustasi banget dan ngerasa bersalah. Ditengah keheningan penghayatan adegan yang lagi sedih-sedihnya ini, terdengar suara isak tangis. Aku yang mulai mengantuk langsung penasaran. Darimana asal suara ini?  Ternyata Mama lagi nangis dan ngelap air mata sambil buka kacamata. Suer, ini pertama kali aku liat Mama nangis nonton film yang cuma fiksi. Aku ketawain. Hahahahaha. Nobar DVD ini ga tanggung-tanggung dari pagi sampe jam setengah 12 malem. Maklum ya kalo udah kepo ya kaya gini mau diapain lagi.

Di drama ini aku juga menemukan crush baru. Si Raja ganteng alias Kim Soo Hyun. Muka imutnya aduhduddduddduuuhhh. (meleleh duluan)

Akhirnya aku berpindah dari Minoz (fans Lee Min Ho) ke Kim Soo Hyun oppa (sok imut pake oppa). Tahun 2013 (kalau ngga salah) dia sempet rilis film The Thieves tapi aku ngga nonton. Nah akhirnya dia main drama baru, You Who Came From The Stars. Berperan sebagai alien (ter)ganteng(yang pernah ada) yang hidup di bumi udah 400 tahun. Aku telat ya taunya. Ya gitu kata Wida sih. “Nikmati aja itu dia disitu gantengnya berlebihan.” Balas wida di whatsapp. OH M G itu bukan berlebihan. Itu sudah keterlaluan T____T dari segi cerita memang drama dia ini ngayal. Mana ada alien ganteng begitu. Dan ceritanya dia udah gonta ganti profesi selama 400 tahun tinggal di bumi. Sekarang dia lagi jadi professor. Yaampun tiap liat scene dia ngajar rasanya kayak pengen punya guru seperti itu. Perfect. Ga bakal bosen. Hahahaha. Iya tapi salah fokus jadinya. Karena kepo nggak keruan akhirnya aku baca sinopsisnya aja dari episode 16 sampe 21. Disini nanti ceritanya si Do Min Joon (Kim Soo Hyun) harus balik ke planetnya dan pisah sama Cheon Song Yi. Yaampun aku sedih abis mereka baru jadian dan harus pisah. Aku sampe pengen nangis bacanya. Kenapa penulisnya setega ini?!!?!?!! (?) Namun mungkin dikarenakan LDR antar kota dan negara sudah terlalu mainstream, akhirnya ini LDR antar planet. Nggak deng hehehe. Do Min Joon berhasil teleportasi ke bumi lagi selama 2 tahun dan bisa nemenin Song Yi. Akhir yang bahagia. Ngga kerasa udah jam 11 malem. Dan aku mulai berkhayal, “mungkin ngga jodohku alien?” bhak! Udah jangan dibully ya. Korban drama korea ya begini ini. Hm Soo Hyun oppa…

            Fyi, aku sebenernya ngga berani nonton drama korea lagi takut kalo kecanduan udah akut banget nggak kenal waktu. Apalagi sekarang udah kelas 12. Terhanyut dikit bisa bablas. Tapi semua luluh….luluh…seiring penampakan alien ganteng. Tulisanku kayak orang mabok aja ya. Sudahi dulu ya. Bye



Mana ada alien seganteng ini?!?

Jumat, 19 September 2014

Q&A-ing Myself Part 3

Postingan Question and Answering Myself ini lama-lama mirip ask fm yang nanya aku sendiri yang jawab juga aku sendiri. Okay kita mulai aja yuk

Lagu apa yang lagi kamu dengerin sekarang?
Taylor Swift – Shake It Off

Coba nyanyiin reffnya dong :3
Cause the players gonna play, play, play, play, play
And the haters gonna hate, hate, hate, hate, hate
Baby I’m just gonna shake, shake, shake, shake, shake
I shake it off, I shake it off
Udah ya satu bait aja..

Gimana rasanya jadi kelas 3 SMA?
Kadang masih susah gitu percaya kalau udah di penghujung wajib belajar 12 tahun. Rasanya dulu pas SMP udah gede banget, sekarang liat anak SMP kayaknya masih polos dan kecil wkwkwk. Aku diem-diem kalo lagi les suka merhatiin anak SMP, “yaampun muka mereka polos-polos sekali..” pikirku. Kemudian aku teringat masa SMPku. “Apa mukaku dulu sepolos itu?” Jadi kelas 3 ini asyik.

Asyik?
Iya

Yakin?
Iyaaa

Kok bisa?
Karena sebentar lagi kita akan jadi mahasiswa. Weekendku nggak lagi nganggur ngemall atau jalan-jalan, tapi dipake ngerjain PR, ikut tambahan sabcer, nyicil buat ulangan minggu depan. Aku sibuk. Dan menurutku itu keren. Kadang capek juga, tapi gatau kenapa aku masih merasa kalau ini keren.

Pelajaran apa yang paling kamu tunggu-tunggu di sekolah?
Agama Islam. Gurunya enak banget. Jadi ngga sabar menunggu hari Rabu setiap minggunya.

Pernah nggak sih kepikir pengen merubah sesuatu di sistem pendidikan Indonesia?
Selalu.

Okay, kalau kamu diberi wewenang merubah sistem pendidikan Indonesia, apa yang bakal kamu lakukan?
Dari dasar, aku akan merubah cara belajar yang selama ini murid duduk manis. Atau di kurikulum baru ini jadi guru yang duduk manis mendengarkan murid presentasi. Nah, menurutku ini kurang efektif. Nggak terjadi komunikasi 2 arah. Belajar yang enak adalah saling sharing. Nggak ada namanya anak murid kesayangan dan yang nggak disayang. Menurutku setiap guru ngga boleh membeda-bedakan muridnya. Semua harus adil. Boleh punya murid andalan tapi jalan terus-terusan di’sayang-sayang’ nanti bisa menimbulkan kecemburuan terhadap murid-murid yang lain. Terus, setelah cara mengajar yang diperbaiki selanjutnya mari cuss ke dampak positifnya. Murid ngerti pelajarannya. Selama ini kadang kita cuek sama pelajaran di sekolah, karena kita beranggapan kurang jelas dan mungkin lebih jelas apabila diterangkan oleh guru bimbel. Aku pernah denger temen les ngomong, “di sekolah ini rasanya cuma numpang nyetor nilai, belajarnya ya di tempat les.” Aku setuju banget. Setiap aku nggak ngerti pelajaran, aku pasti akan simpen buat ditanyakan ke guru les, dan jarang ke guru sekolah. Dari sudut pandangku ini (dan mungkin anak-anak lain juga) aku menyimpulkan kalau nggak selamanya murid itu salah. Murid nggak bisa? Murid yang salah. Bukan, coba cek kembali bagaimana cara guru mengajar agar membuat muridnya memahami apa yang dia ajarkan. Kadang aku sebel sebagai murid dipersalahkan secara sepihak (-_-)V. Sebenernya masih banyak yang lain sih. Nanti kapan-kapan aja ya kalau ada kesempatan aku post soal pendidikan di Indonesia.

Oh iya! Ngomongin soal cita-cita, ada nggak sih cita-cita yang lain selain jadi dokter?
Hmmm ada. Dulu aku pengen jadi guru. Terus berubah jadi dokter. Terus berubah lagi mau jadi jurnalis. Terus berubah lagi mau jadi ahli bahasa Inggris. Terus berubah lagi mau jadi psikolog. Lalu kembalilah ke dokter.

Semangat! Kalau kedokteran mau ambil spesialis apa nih?
Awalnya aku mau ambil kandungan, lalu kemudian aku membayangkan betapa syok dan paniknya aku nanti pas ada ibu-ibu njerit melahirkan. Dan aku punya interest lain, aku pengen jadi ahli bedah tulang. Tapi papa menyarankan aku jadi ahli penyakit dalam. Lihat sajalah nanti ok! J

Pernah nggak pengen punya keahlian untuk job lain?
Yep. Kalo bisa aku pengen jadi arsitek. Arsitek adalah salah satu pekerjaan yang keren, menurutku. Sayangnya aku payah dalam menggambar hehehe.

Pernah nggak terbesit pengen jadi ilmuwan?
Emmm pernah sih, tapi aku bukan tipe orang yang kepo kepo banget.. mungkin aku paling banter jadi peneliti

Pekerjaan paling mulia menurutmu?
Guru

Kalau kamu di bidang sosial, kamu mau bekerja jadi apa?
Gini, aku payah ekonomi dan nggak tertarik sama sekali sama yang namanya ekonomi apalagi akuntansi. Jadi mungkin aku akan milih jadi sosiolog atau psikolog. Yang pasti juga ngga di bidang politik dan hukum.

Pernah nggak punya keinginan pengen melanjutkan study ke luar negri?
Ke luar negri maksudnya bukan swasta kan? Hehehe. Iya, aku pengen ke Inggris atau Finlandia.

Menurutmu tolok ukur sukses itu apa?
Aku belum tau.

Akhirnya sampailah kita dipenghujung tanya jawab ini. Postkan satu quote dengan tema pendidikan!
“Belajarlah seperti Tuhan tidak akan membantu kalau Anda tidak pandai, tapi berdoalah seperti kepandaian Anda tidak akan membantu.” (Mario Teguh)